Kasus Karhutla di Kutai Barat Menurun Signifikan
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kutai Barat menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2024 ke 2025.
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kutai Barat menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2024 ke 2025.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubar mencatat, total kejadian kebakaran turun dari 86 kasus pada 2024 menjadi 51 kasus pada 2025.
Luasan lahan yang terbakar juga ikut menyusut, dari 272,634 hektare menjadi 179,95 hektare, atau berkurang sekitar 92,684 hektare.
Pelaksana Tugas (Plt) Sub Koordinator Kedaruratan BPBD Kubar Yuliandry Wawan menjelaskan, penurunan ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang lebih bersahabat.
“Kemarau tahun ini masih diselingi hujan sesekali, sehingga penyebaran api lebih terkendali,” kata Yuliandry kepada Korankaltim.com, Rabu (7/1/2026).
Selain faktor alam, peran masyarakat juga menjadi kunci. Kesadaran warga untuk melapor saat melihat asap maupun melakukan pembukaan lahan sangat penting untuk membuat tim BPBD bisa merespon lebih cepat.
“Dengan laporan yang cepat, termasuk melalui media sosial, kami bisa segera turun ke lokasi dan meminimalkan dampak kebakaran,” ujar Yuliandry lagi.
Meski jumlah kejadian menurun, Kecamatan Barong Tongkok dan Sekolaq Darat tetap menjadi wilayah dengan frekuensi kebakaran tertinggi. Karakteristik wilayah dan jenis bahan bakar menjadi penyebabnya. Barong Tongkok didominasi tumbuhan pakis hutan dan kontur tanah berpasir yang cepat panas saat kemarau, sedangkan di Sekolaq Darat, lapisan gambut yang lebih tebal menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam.
Kendala teknis terbesar saat memadamkan api di lahan gambut adalah ketersediaan air. “Api bisa menyala di bawah permukaan sehingga sulit dijangkau dengan peralatan biasa,” ungkapnya.
Untuk lahan yang berstatus Area Penggunaan Lain (APL), BPBD Kutai Barat melakukan koordinasi dengan pemilik maupun masyarakat setempat. Melalui sosialisasi dan pemantauan rutin, masyarakat kini lebih aktif melapor saat akan membuka lahan atau ketika melihat asap. Langkah ini memungkinkan BPBD menurunkan tim sesuai kebutuhan dan menekan kerugian akibat kebakaran.
Dengan adanya penurunan jumlah kasus dan luasan lahan yang terbakar, BPBD Kubar optimistis strategi mitigasi kebakaran yang menggabungkan kesiapsiagaan petugas dan partisipasi aktif masyarakat dapat terus diperkuat.
Editor: Aspian Nur







Copyright © 2007 - 2026 Korankaltim.com | All Rights Reserved.
7 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 111 km tenggara Selayar
01 Okt 2026, 21:20:00 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG