Jumat (12/12/2025) sekitar pukul 01.30 WITA dini hari tadi, lima rumah, empat bangunan sarang burung walet dan satu gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) di kampung tersebut diamuk si jago merah, menyisakan puing dan kesedihan para pemiliknya yang masih patut disyukuri tidak ada korban jiwa.
Namun yang memperihatinkan dibalik musibah dalam kondisi gelap gulita itu adalah ketiadaan mobil pemadam kebakaran, diperburuk dengan akses jalan dan yang tak kalah pentingnya, tidak ada jaringan komunikasi kepada pihak terkait, membuat proses pemadaman api harus dilakukan secara manual.
Kasi Humas Polres Kubar Ipda Sukoco kepada Korankaltim.com menjelaskan, api diduga berasal dari sebuah rumah warga dikawasan tersebut yang merembet cepat ke bangunan lain. “Sebagian besar rumah terbuat dari kayu dan angin berhembus kencang, itu membuat api cepat membesar,” kata Sukoco.
Tidak bisa menghubungi petugas pemadam kebakaran atau bantuan lain, warga setempat bahu membahu mematikan api mengandalkan peralatan darurat yang mereka miliki alias secara manual menggunakan ember dan alkon, hal mana yang membuat penanganan berjalan lambat sementara api menjalar dengan cepat.
Suasana gelap dan terpencilnya lokasi membuat kobaran api tak bisa dikendalikan hingga akhirnya meludeskan total sepuluh bangunan di kampung tersebut.
Pihak kepolisian sudah melakukan olah tempat kejadian dan meminta keterangan dari sejumlah saksi. Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan. “Kami masih mendalami sumber api dan memastikan tidak ada unsur kesengajaan. Proses penyelidikan terus berjalan,” ujar Sukoco.
Peristiwa ini tentu meninggalkan duka dan kerugian besar bagi para pemilik rumah yang kehilangan tempat tinggal serta seluruh isi bangunan. Aparat kampung mulai melakukan pendataan untuk mengupayakan bantuan bagi warga terdampak.
Editor: Aspian Nur