Hal ini disampaikan dalam kegiatan sosialisasi konservasi badak Kalimantan di Ruang Balkon Lantai 3 Kantor Bupati Mahulu, Kamis, (11/12/2025).
Ari menjelaskan, saat ini hanya terdapat dua individu badak Kalimantan yang teridentifikasi hidup. Satu berada di Suaka Margasatwa Kelian, Kutai Barat (Badak Pahu), dan satu lagi masih berada di hutan alam Mahakam Ulu.
“Ini merupakan salah satu upaya kami mensosialisasikan keberadaan badak Kalimantan. Saat ini yang teridentifikasi hidup hanya dua individu. Satu dirawat di Kelian, satu lagi masih di hutan Mahakam Ulu,” ujar Ari kepada media.
Keduanya merupakan betina, sehingga proses pengembangbiakan tidak dapat dilakukan secara alami.
Untuk itu, BKSDA menyiapkan langkah teknis menggunakan metode Assisted Reproductive Technology (ART) atau pengembangbiakan berbantu.
“Karena betina semua, maka upaya meningkatkan populasi perlu dilakukan secara teknis. Badak Kalimantan secara morfologis lebih mungil dibanding badak Sumatera, sehingga opsi kawin alami tidak memungkinkan. Inseminasi buatan pun berisiko karena dikhawatirkan ukuran janin mengikuti bapaknya. Jadi opsi yang paling memungkinkan adalah bayi tabung,” jelasnya.
Melalui teknik tersebut, sel telur badak Kalimantan akan dipadukan dengan sperma badak Sumatera untuk menghasilkan embrio. Embrio tersebut kemudian dititipkan ke rahim badak Sumatera betina.
“Saat ini kita sudah tiga kali mencoba mengambil sel telur badak Pahu, namun belum berhasil. Maka kita membutuhkan sumber genetik baru. Di sinilah pentingnya Pari untuk proses ART berjalan,” tambahnya.
Ari menegaskan, rencana translokasi badak Pari dari Mahulu ke Kutai Barat menjadi prioritas dan sangat mendesak dilakukan.
Ia meminta dukungan pemerintah daerah dan masyarakat Mahakam Ulu untuk kelancaran proses tersebut.
“Kami berencana melakukan kegiatan translokasi dari Mahulu ke Kubar dan butuh dukungan semua pihak. Ini sangat prioritas dan urgent,” tegasnya.
Terkait permintaan agar identitas daerah tetap melekat pada satwa tersebut, ia menyatakan setuju. Badak Pari akan diberi nama publikasi “Pari Mahulu” sebagai bentuk pengakuan terhadap asal-usulnya.
“Nama itu akan kita publikasikan sebagai Pari Mahulu. Itu menunjukkan bahwa badak tersebut berasal dari Mahakam Ulu,” ujarnya.
Ia juga membuka peluang bagi masyarakat dan pemerintah Mahulu untuk melihat langsung satwa tersebut jika dipindahkan ke Kelian.
“Ketika badak itu ada di Kubar, teman-teman Mahulu juga bisa melihat badaknya. Namun pengaturannya harus ketat karena badak sangat sensitif,” katanya.
Lebih jauh, ia memastikan keturunan hasil program ART nantinya akan dikembalikan ke Mahakam Ulu jika kondisi habitat sudah siap.
“Jika ini berhasil, anak dari Pari Mahulu akan kita kembalikan. Pemerintah daerah juga berkomitmen menyiapkan lokasi habitat yang cocok,” ujar Ari.
Sementara itu, Wakil Bupati Mahulu, Suhuk, menyatakan dukungan penuh pemerintah kabupaten terhadap program konservasi dan pengembangbiakan badak.
“Kami dari Pemkab Mahulu sangat mendukung pelestarian badak ini. Harapan kami, namanya bukan hanya Pari, tapi Pari Mahulu, supaya Mahulu lebih dikenal,” kata Suhuk.
Ia juga menyinggung adanya sebagian masyarakat yang keberatan jika badak dipindahkan, namun Pemkab Mahulu berupaya menjelaskan bahwa langkah tersebut penting untuk keselamatan satwa.
“Kita sampaikan bahwa ini untuk kebaikan badak. Kalau dibiarkan sendiri di hutan, bisa stres. Di Kelian ada Pahu, jadi bisa lebih tenang,” ungkapnya.
Pemkab Mahulu juga menegaskan permintaan agar badak tersebut dikembalikan ke Mahulu setelah program berhasil.
“Kami menekankan tadi, kalau sudah selesai apapun hasilnya, kami minta dikembalikan ke Mahulu. Ini bisa menjadi ikon daerah, karena jumlah badak sangat sedikit,” jelasnya.
Suhuk menambahkan, pemerintah siap menyiapkan lokasi baru yang lebih mudah dipantau jika anak badak kelak dikembalikan.
“Kami siap koordinasi untuk menyiapkan tempat yang mudah dipantau, supaya tidak dibiarkan begitu saja,” katanya.
Ia menutup dengan menegaskan pentingnya menjaga satwa langka ini agar tidak tinggal cerita bagi generasi mendatang.
“Harapan kita badak ini bisa berkembang biak dan mewakili Kalimantan Timur ke depan. Jangan sampai nanti keberadaannya hanya jadi dongeng untuk anak cucu kita,” pungkasnya.
Editor: Erwin