Bantuan ini menjadi bentuk Komitmen kepada masyarakat yang memberikan kembali kepercayaan kepadanya untuk kedua kalinya menjadi anggota DPRD.
Rita menyampaikan bahwa penyaluran bibit bukan sekadar kegiatan seremonial. Keberhasilan program, sangat bergantung pada keseriusan warga dalam merawat ternak tersebut.
Ia berharap bibit yang diterima dapat berkembang dan menambah pemasukan keluarga.
“Harapan saya, bibit ini dirawat sebaik-baiknya. Jangan sampai diterima hari ini lalu mati besok. Kalau dipelihara dengan benar, bisa berkembang dari dua menjadi lima bahkan sepuluh ekor,” ujarnya kepada Korankaltim.com.
Ia juga menekankan ternak babi memiliki potensi reproduksi tinggi sehingga sangat mungkin menjadi sumber ekonomi tambahan bagi rumah tangga. Rita menilai diperlukan pola pemeliharaan yang berkelanjutan agar usaha ternak warga terus meningkat.
“Yang penting dikelola dengan baik. Ke depan, kalau perkembangan mereka bagus, tentu dukungan lain bisa diberikan dalam bentuk berbeda. Intinya, usaha masyarakat harus berkembang, bukan berhenti di satu titik,” tambahnya.
Apresiasi datang dari Ketua Kelompok Tani Sukajadi Dua, Rina, Ia menilai perhatian tersebut sangat berarti bagi para peternak dan petani di Gleo Baru dan menjadi dorongan bagi anggota kelompok untuk terus mengembangkan usaha ternak.
“Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami. Semoga ternak ini bisa berkembang dan menambah pendapatan anggota,” ujar Rina.
Perwakilan kelompok suka jadi dua, Kemi, juga menyampaikan terima kasih atas perhatian tersebut. Ia menekankan program seperti ini penting untuk memperkuat hubungan antara masyarakat dengan pihak-pihak yang peduli terhadap kebutuhan petani dan peternak.
“Program seperti ini tidak hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga mempererat hubungan kami dengan wakil rakyat,” tuturnya.
Petrus Sandianto dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kutai Barat menjelaskan bahwa total bibit yang dibagikan berjumlah 44 ekor. Ia menyebut peningkatan populasi ternak menjadi strategi penting dalam mendorong konsumsi protein hewani masyarakat yang saat ini masih tergolong rendah.
Penyebaran bibit harus dibarengi dengan pembibitan berkelanjutan, penguatan pakan, pendampingan teknis, hingga peningkatan kualitas genetik.
Petrus menilai tantangan terbesar peternak di Kubar saat ini adalah ketersediaan pakan, sehingga membutuhkan sinergi lintas perangkat daerah. Ia menambahkan Kutai Barat memiliki peluang besar memasok kebutuhan daging bagi Ibu Kota Nusantara yang diperkirakan kekurangan pasokan hingga 70 persen.
“Potensi ini harus dimanfaatkan. Tapi harus didukung kerja sama yang kuat, tidak bisa hanya bergerak sendiri-sendiri,” ujarnya. Ia juga berharap Kutai Barat dapat memiliki pasar hewan sendiri sebagai pusat perdagangan ternak, mengingat fasilitas tersebut hingga kini belum tersedia.
Editor: Erwin