Perayaan budaya ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Dayak Benuaq, khususnya para pengrajin tenun doyo yang menjadikan warisan leluhur itu sebagai identitas budaya.
Ketua Penyelenggara Erik Extrada menyampaikan, gelaran tahun ini melanjutkan perjalanan panjang yang telah mereka bangun sejak Festival Tanjung Isuy 2018 hingga akhirnya kampung tersebut ditetapkan sebagai satu dari 10 kampung budaya yang mendapat aktivasi dari Kementerian Kebudayaan.
“Ini bukan acara tahunan biasa tapi hasil perjuangan kami sejak membangun komunitas Tiaq Egah sampai terbentuknya Perkumpulan Tongau Puaringa. Tahun ini perjuangan itu akhirnya mendapat pengakuan pemerintah pusat,” ungka Erik kepada Korankaltim.com disela acara hari ini.
Erik menekankan pentingnya pelestarian tenun doyo yang kini menghadapi tantangan bahan baku dan minimnya pengrajin motif. Ia juga menyebut hanya satu orang di Tanjung Isuy yang masih mampu membuat alat musik jerupai, sehingga diperlukan regenerasi dan dokumentasi yang lebih serius.
Sementara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata (Plt Kadispar) Kutai Barat FX Sumardi mengapresiasi kerja komunitas lokal yang berhasil menghidupkan kembali identitas budaya Tanjung Isuy.
Dispar Kubar akan memberi perhatian lebih terhadap program aktivasi Desa Budaya, khususnya dalam mendorong pelestarian tenun doyo, seni pertunjukan, dan kerajinan tradisional lain agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
“Pesta Sua Doyo bukan hanya agenda seni. Ini bagian dari upaya besar untuk menjaga warisan budaya. Kami di Dispar siap memberi pendampingan supaya kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan sebagai agenda tahunan,” sebut Sumardi.
Posisi Kubar sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara membuka peluang besar bagi pengembangan destinasi wisata budaya. Karena itu, Dispar mendorong kampung-kampung untuk memperkuat pengelolaan potensi budaya dan pariwisata, termasuk fasilitasi pelatihan, pendokumentasian, dan pengembangan sentra kerajinan.
“Aktivasi Desa Budaya harus berdampak. Bukan hanya seremonial, tetapi memberi nilai ekonomi bagi masyarakat,” harapnya.
Editor: Aspian Nur