Sejak pagi, masyarakat sudah memenuhi area acara untuk menikmati hidangan yang disiapkan panitia. Suasana riuh terlihat ketika warga duduk berjejer dan menyantap hidangan bersama, tradisi yang diyakini sebagai simbol kebersamaan setelah rangkaian gotong royong masyarakat berlangsung sejak 11 November pekan lalu.
Camat Melak Asrin Surianto mengatakan menjelaskan, tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas budaya Melayu yang terus dijaga hingga kini. “Dalam adat kami, orang tidak boleh pulang sebelum diberi makan. Setelah gotong royong beberapa hari, tibalah saatnya makan bekerobok bersama dan melakukan pupur basah. Ini wujud kebersamaan masyarakat Melak,” kata Asrin kepada Korankaltim.com.
Wakil Bupati Kubar Nanang Adriani menutup resmi festival ini dan menilai antusiasme masyarakat menunjukkan Festival Gemeoh telah menjadi ruang pemersatu berbagai suku yang hidup berdampingan di Melak.
“Ini pesta rakyat yang memperkuat silaturahmi sekaligus mendorong ekonomi warga melalui UMKM, kuliner dan seni budaya,” sebut Nanang.
Selama sepekan pelaksanaan, Festival Gemeoh menampilkan berbagai kegiatan budaya dan olahraga seperti Tari Jepen, lomba lari Run 5K, Begasing, Menyumpit, Bulutangkis, Ketinting serta Kirab Budaya, Jalan Santai dan Senam Sehat.
Meski telah resmi ditutup, panitia masih menjadwalkan dua kegiatan lanjutan yakni Lomba Ketinting dan Lomba CES 23-24 November nanti. Warga dipersilakan kembali hadir menyaksikan perlombaan tersebut.
Festival Gemeoh yang digelar setiap tahun ini diharapkan terus berkembang menjadi agenda budaya tingkat kabupaten bahkan provinsi. “Melak punya kekuatan budaya yang luar biasa—Melayu, Dayak dan beragam suku lainnya. Semoga festival ini terus menjadi kebanggaan kita bersama,” ujar Asrin.
Editor: Aspian Nur