Petani di desa tersebut mulai turun ke sawah menanam padi varietas lokal Mayas, satu dari beberapa beras khas Kalimantan Timur yang terkenal pulen dan harum.
Ketua Kelompok Tani Sukajadi 3 Septiansyah kepada Korankaltim.com disela penanaman menjelaskan, warga di kampungnya sudah terbiasa hanya menanam padi sekali setahun. Menurutnya, cara itu bukan tanpa alasan.
“Pernah kami coba dua kali setahun, tapi sering gagal. Hama lebih banyak, apalagi kalau lahan dibuka tidak serentak. Belum lagi kalau banjir besar datang, tanaman bisa habis terendam. Jadi kalau setahun sekali hasilnya masih bisa diandalkan,” kata Septi.
Tradisi masyarakat Dayak dalam bertani selalu berpijak pada tanda-tanda alam. Musim tanam ditentukan dengan melihat siklus buah kayu di hutan. Jika waktunya tepat, padi akan matang beriringan dengan buah-buahan di hutan.
"Dengan cara itu, hama tidak hanya menyerang padi karena mereka juga mendapat makanan dari hutan. Tradisi ini sudah turun-temurun, sehingga jadwal tanam tidak bisa meleset" paparnya.
Di Gleo Baru, penanaman padi biasanya dilakukan pada akhir September hingga Oktober, sedangkan panen berlangsung sekitar Februari. Tahun lalu hasil panen petani mencapai tiga ton per hektare meski tanpa pupuk. Sebagian besar hasilnya digunakan untuk kebutuhan keluarga, sementara sisanya dijual apabila ada permintaan.
“Kalau ada orang datang membeli, baru kami jual. Harganya sekitar Rp20 Ribu per kilogram. Tahun ini kami sudah mendapat bantuan pupuk, harapannya hasil panen ke depan bisa lebih baik,” ujar Septiansyah lagi.
Terpisah, Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian Kutai Barat Jukran Edy menilai potensi padi Mayas cukup besar. Ia menegaskan bahwa beras ini punya keunggulan yang membuatnya banyak dicari.
“Beras Mayas ini sangat diminati, banyak konsumen rela membayar lebih karena kualitasnya yang pulen dan harum. Namun produksinya masih terbatas karena petani hanya menanam sekali setahun. Inilah yang membuat ketersediaannya di pasaran terbatas. Kalau irigasi bagus dan sarana pendukung ditingkatkan, peluang dua kali tanam setahun terbuka lebar,” ujar Jukran.
Kawasan persawahan Gleo Baru sudah masuk dalam program nasional ketahanan pangan yang dijadwalkan berjalan pada 2026. Program ini diharapkan mampu memperbaiki sarana irigasi sekaligus mengoptimalkan lahan sawah.
“Prospeknya bagus, beras Mayas ini murni, tidak dicampur jenis lain, dan sangat diminati konsumen. Kalau produksinya bisa ditingkatkan, Kutai Barat bisa lebih kuat dengan identitas pangan lokalnya,” ujarnya.
Dengan tradisi yang masih terjaga, tantangan yang perlahan diatasi, serta dukungan pemerintah, petani di Gleo Baru berharap padi Mayas tetap menjadi sumber pangan sekaligus warisan budaya yang terus lestari di Tanah Bumi Tanaa Purai Ngeriman, julukan Kutai Barat.
Editor: Aspian Nur