Sabtu (13/9/2025) malam hari kemarin, warga dua kampung tersebut melaksanakan ritual nawah, yaitu prosesi menyalakan perapian di depan rumah masing-masing. Meski digelar di tengah banjir, kegiatan tetap berlangsung seperti biasa.
“Kalau sudah berjalan ini walaupun situasi bagaimana pun tetap kami jalankan. Jangankan banjir, kalau ada orang meninggal pun adat tetap terus berjalan,” tegas Jimas, Sekretaris adat Kampung Tering Lama kepada Korankaltim.com.
Laliq Ugaal merupakan cara masyarakat Dayak mengenang leluhur yang dahulu selalu menugal padi dengan ritual. Kini tradisi itu diteruskan sebagai penghormatan sekaligus doa agar kampung terjaga. Dalam prosesi yang berlangsung, masyarakat mengundang roh leluhur untuk hadir dan memberi restu.
Meski jumlah warga yang hadir lebih sedikit imbas banjir namun semangat tetap terasa. “Kalau tidak banjir biasanya yang ikut lebih banyak lagi. Tapi meski begitu adat harus tetap berjalan,” sebut Jimas lagi.
Untuk menjaga kesakralan, penyelenggara adat menetapkan sejumlah tata tertib selama prosesi berlangsung, diantaranya larangan mengambil rumput untuk pakan ternak, larangan mendirikan bangunan, larangan memotong rotan hingga larangan mengadakan pesta keluarga. Warga juga diingatkan tidak melakukan perjudian maupun memperjual belikan dan membuat minuman keras. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat dikenakan sanksi adat maupun hukum.
Upacara adat Laliq Ugaal sendiri sudah dimulai sejak 2 September lalu. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September pekan depan. Adapun kondisi banjir di Tering Lama Minggu (14/9/2025) ini perlahan mulai surut.
Editor: Aspian Nur