Ketinggian air bervariasi antara satu hingga tiga meter. Fasilitas umum seperti sekolah, pasar dan Puskesmas ikut terendam sehingga menghambat aktivitas warga. Akses keluar masuk kampung pun lumpuh, warga terpaksa menggunakan jasa perahu ces atau ketinting untuk beraktivitas.
“Banjir ini tiap tahun terjadi, sudah jadi banjir musiman. Tahun ini tidak separah 2024 lalu. Kami sudah biasa dengan kondisi ini, karena penyebabnya memang hujan deras dan air Mahakam yang meluap,” ujar Ali, warga Tering Sebrang Kepada KoranKaltim.com sore ini.
Sebagian warga yang rumahnya terendam memilih mengungsi ke tempat lebih tinggi, namun ada pula yang bertahan karena khawatir barang-barang mereka hanyut terbawa arus.
Sementara Aang, pengemudi perahu ces mengaku jasanya sangat dibutuhkan warga saat banjir. Sejak subuh ia sudah mengangkut penumpang dari dan menuju kampung.
“Ramai sekali orang yang naik ces, tarifnya Rp15 Ribu sampai Rp20 Ribu per orang, tergantung kesepakatan. Kalau banjir seperti ini, ces memang jadi satu-satunya transportasi,” ujar Aang.
Meski banjir kali ini tidak separah tahun sebelumnya, warga tetap berharap air segera surut agar aktivitas kembali normal. Pemerintah kampung setempat juga mengingatkan warga untuk tetap waspada mengingat cuaca masih berpotensi hujan dalam beberapa hari ke depan.
Editor Aspian Nur