Jalan kampung yang ada saat ini sebagian besar rusak parah, sehingga sulit dilalui dan kerap menjadi kendala utama dalam menunjang perekonomian masyarakat.
“Kalau cuaca panas jalan bisa dilewati, tapi begitu hujan turun langsung susah dilewati. Ini menjadi persoalan utama bagi kami karena sangat berpengaruh pada perekonomian masyarakat,” ujar Petinggi Muara Ponaq, Rudiyanto, kepada Korankaltim.com, Rabu (20/8/2025).
Selama ini, warga hanya mengandalkan jalan kebun sawit milik PT Munte Waniq Jaya Perkasa (MWJP) maupun jalur HTI. Pasalnya, kampung tersebut belum memiliki jalan umum yang benar-benar tembus antar-kampung.
Saat ini, hanya terdapat jalur Rikong menuju Ponak, sementara rencana pembangunan jalan baru masih dalam tahap usulan.
“Sudah ada beberapa titik jalan yang kita siapkan untuk diajukan ke pemerintah, salah satunya jalur Rikong tembus 42. Namun, dari titik 42 menuju Kem Baru jalannya belum terbuka. Ada juga rencana jalur yang menghubungkan Muara Ponaq ke Kenyanyan. Jalur ini bisa dimanfaatkan untuk jalan PU karena tidak melintas di jalan perusahaan,” jelas Rudiyanto.
Kondisi itu diperburuk dengan jauhnya jarak kampung menuju pusat pemerintahan Kubar di Sendawar, yang harus ditempuh kurang lebih tiga jam perjalanan.
Kerusakan jalan jelas berimbas pada hasil pertanian dan perkebunan warga. Mayoritas masyarakat Muara Ponaq menggantungkan hidup dari kebun sawit, bertani, dan menyadap karet. Namun karena jalan sulit ditembus, hasil produksi kerap terkendala untuk keluar dari kampung.
Saat ini, Kampung Muara Ponaq dihuni 84 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa penduduk asli. Jika ditambah warga yang berdomisili karena perusahaan di sekitar kampung, total mencapai 1.064 jiwa.
Jumlah tersebut menunjukkan banyaknya masyarakat yang terdampak langsung oleh kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan.
“Kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi, agar pembukaan jalan baru maupun peningkatan jalan lama bisa segera dilakukan. Dengan begitu, hasil pertanian bisa lebih mudah keluar dan ekonomi kampung dapat berkembang,” pungkasnya.
Editor: Erwin