Kapolres Kutai Barat AKBP Boney Wahyu Wicaksono menjelaskan, karhutla merupakan isu strategis yang berdampak luas, tidak hanya terhadap ekosistem dan kualitas udara, tetapi juga pada keselamatan jiwa, kerugian ekonomi, serta kondisi sosial masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Tahun 2024 tercatat sebanyak 356 titik hotspot dengan luas terdampak mencapai 120,70 hektare namun hingga pertengahan 2025, jumlah tersebut turun drastis menjadi 34 hotspot dengan luas sekitar 9 hektare.
“Ini adalah indikator keberhasilan bersama, tapi tidak boleh lengah, karena tantangan ke depan lebih kompleks, terutama akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia yang tidak terkendali di musim kemarau,” ujar Boney dalam sambutan pada apel tersebut.
Menghadapi potensi karhutla, Polres Kutai Barat telah menyiagakan 150 personel yang siap digerakkan cepat dan terarah. Selain itu, langkah pencegahan dilakukan secara kolaboratif lintas sektor.
Polsek dan Bhabinkamtibmas juga diarahkan untuk membentuk posko siaga karhutla di tingkat kecamatan dan desa, menyusun peta rawan berbasis observasi lapangan, serta melakukan patroli terpadu bersama TNI, BPBD, relawan, dan masyarakat.
Boney mengapresiasi peran Forkopimda dan Forkopimcam yang telah menerbitkan kebijakan pelarangan pembakaran terbuka serta mendorong sinergi di lapangan. Ia juga mencatat kontribusi nyata dari sejumlah perusahaan melalui pembangunan embung, jalur akses kebakaran, pendirian menara pantau, pelatihan petugas pemadam internal, serta pemasangan alat deteksi asap dan sistem radio darurat.
“Apel siaga ini bukan sekadar seremonial. Ini bentuk kesiapsiagaan menyeluruh. Kita harus berpikir taktis, bertindak cepat, menjaga koordinasi, dan bertindak tegas namun humanis terhadap pelanggaran hukum,” tegasnya.
Seluruh pihak diajak menjaga integritas sebagai pelindung masyarakat dan menjadikan tahun 2025 sebagai momentum menegaskan bahwa Kutai Barat adalah wilayah tangguh dalam menghadapi bencana karhutla.
Editor: Aspian Nur