Kepala BPBD Mahulu, Agus Darmawan, mengungkapkan bahwa pendampingan terhadap warga yang membuka lahan dengan cara membakar diperlukan pendampingan. Semua peralatan untuk penanggulangan karhutla pun telah disiagakan.
“Semua unit disiagakan, pompa-pompa juga sudah kami siapkan. Seperti biasa, apabila masyarakat hendak membakar ladang, selalu berkoordinasi dengan kami,” ujar Agus saat dihubungi Korankaltim.com, Minggu (3/8/2025).
Ia menyebut, pembukaan untuk berkebun dengan cara membakar merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Mahulu yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Karena itu, BPBD berkewajiban melakukan pemantauan agar kegiatan tersebut tidak menimbulkan karhutla.
“Ini bulan-bulan di mana masyarakat setempat mengolah ladangnya dengan cara membakar. Maka dalam hal ini kami wajib memonitor setiap titik api yang ada di wilayah Mahakam Ulu,” jelasnya.
Meski demikian, Agus mengungkapkan kondisi geografis di Mahakam Ulu cukup berat. Wilayah ini didominasi pegunungan, akses jalan belum bagus, dan jarak antarkecamatan sangat berjauhan. Hal ini membuat penanganan di lapangan membutuhkan waktu dan tenaga lebih.
“Kendala kami memang di medan. Letak geografis Mahulu ini pegunungan, akses jalan belum bagus, dan kecamatan satu dengan yang lain berjauhan. Jadi penanganan membutuhkan waktu,” ujarnya.
Ditambahkannya, masyarakat agar tidak membakar lahan melebihi batas yang ditentukan. Jika ingin membuka ladang, warga diminta melapor ke aparat kampung, TNI/Polri, atau BPBD. Selain itu, BPBD juga melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) di setiap kampung.
Editor: Erwin