Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kutai Barat (BPBD Kubar), Bambang Pramudito menjelaskan hal tersebut.
Selain berada di tepi sungai juga kawasan area rawa dengan jenis tanah kembung yang menyusut saat kering dan mudah bergeser. Turunnya muka air menyebabkan pengikisan tanah yang akhirnya memicu pergerakan tanah.
“Ini bukan longsor karena jenuh air, tapi karena tanah yang kering langsung turun. Prosesnya karena air surut kemudian bagian belakang rumah yang berbatasan dengan rawa ikut turun. Pergerakan masih terjadi sampai siang tadi, bahkan turun sekitar satu meter lagi. Kalau malam hujan, potensi longsor susulan sangat besar,” ujar Bambang kepada Korankaltim.com.
Kawasan tersebut sudah beberapa kali mengalami kejadian serupa. Berdasarkan pemetaan menggunakan drone, luas area terdampak diperkirakan mencapai 190 meter. Kajian teknis masih dilakukan untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan relokasi warga.
Akses jalan antara RT 1 dan RT 2 bagian ilir turut terputus akibat longsor tersebut. Diketahui dalam musibah tersebut tiga rumah warga dan satu bangunan musala mengalami kerusakan, sementara 13 jiwa dari empat kepala keluarga terpaksa mengungsi karena kondisi tanah yang masih labil dan berisiko longsor susulan. Jalur longsor tersebut merupakan satu-satunya penghubung, sehingga warga RT 2 kini kesulitan keluar dari wilayah mereka.
Penanganan darurat langsung dilakukan oleh BPBD bersama pemerintah kampung dan kecamatan. Bantuan logistik dari Pemkab Kutai Barat dan PT Buma Energi Kaltim (BEK) telah disalurkan ke posko pengungsian.
Bupati Kutai Barat Fredrikus Edwin dan Wakil Bupati Nanang Adriani datang langsung ke lokasi untuk meninjau dampak longsor serta menyampaikan bantuan kepada warga.
Ernie, ibu rumah tangga yang terdampak bencana menceritakan detik-detik saat menyelamatkan dua anaknya dari dalam rumah. Guncangan membuatnya terbangun dan panik. Ernie langsung menarik anak-anaknya keluar, memaksa membuka pintu rumah yang sempat terjepit, lalu memanjat ke tempat yang lebih tinggi.
“Begitu saya sudah naik tanah disamping rumah langsung longsor dan rumah saya tertimbun. Kalau saya lambat sedikit, mungkin ikut tertimbun juga,” ujar Ernie yang kini kehilangan satu-satunya tempat tinggal. “Saya cuma bisa nangis. Rumah saya sudah tidak ada lagi. Semoga ke depan tidak terjadi lagi seperti ini,” harap Ernie dengan nada sedih.
Editor: Aspian Nur