Disdikbud Kutai Barat Pacu Generasi Muda Paham Budaya Lewat Kanda Dinda Duta Budaya 2025
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Langkah pelestarian budaya terus digencarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Barat melalui program Kanda Dinda Duta Budaya 2025.
Kegiatan berlangsung sejak Rabu (3/7/2025) lalu di Aula Disdikbud Kutai Barat yang menghadirkan 12 peserta muda terpilih yang siap berperan sebagai motor penggerak kebudayaan di era digital.
Mengambil tema “Menjaga Warisan Bhinneka, untuk Harmoni Pilar Budaya,” program ini tidak sekadar mencari sosok duta budaya berwawasan adat tetapi juga yang paham teknologi dan peka pada perkembangan media digital.
Tahapan awal seleksi berlangsung melalui audisi terbuka, mencakup perkenalan diri, wawancara hingga penyampaian ide inovatif. Peserta diminta memaparkan gagasan kreatif mereka dalam upaya merawat dan mengenalkan budaya Kutai Barat, termasuk memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) dan platform media sosial.
Kepada Korankaltim.com, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutai Barat, Seki saat ditemui di Gedung Aji Tulur Jejangkat (ATJ) menjelaskan, para finalis kali ini membawa perspektif yang segar dan visioner. “Mereka punya semangat luar biasa, sadar budaya bukan sekadar simbol masa lalu, tetapi harus bisa dikomunikasikan ke publik secara global. Ada yang mengusulkan video pendek di TikTok, ada pula yang berbicara soal arsip digital berbasis AI,” kata Seki.
Para finalis akan mengikuti pembekalan khusus pada 7–9 Juli pekan depan, mencakup materi etika kebudayaan, kemampuan public speaking, strategi pemajuan budaya, hingga pemanfaatan teknologi untuk pengelolaan konten budaya. “Kalau dulu hanya menunggu orang datang ke museum, sekarang kita yang harus hadir di ruang digital mereka,” tegas Seki.
Puncak kegiatan dijadwalkan pada 14 Juli 2025 di Taman Budaya Sendawar, di mana para finalis bakal mempresentasikan gagasan budaya di hadapan dewan juri dan masyarakat umum.
Aspek penilaian tidak semata menonjolkan penampilan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, pemahaman budaya, dan orasi yang menyentuh nilai-nilai lokal.
Sejak pertama kali digelar, ajang Kanda Dinda Duta Budaya terbukti berdampak positif. Alumni program ini aktif mempromosikan budaya daerah lewat media sosial dan komunitas, sekaligus memperkenalkan pariwisata berbasis budaya ke khalayak yang lebih luas.
“Kami ingin generasi tak melek budaya, tapi juga paham teknologi. Pelestarian tidak hanya sekadar menjaga, tetapi juga menyampaikan nilai budaya dengan cara yang tepat dan menarik,” tutup Seki.
Editor: Aspian Nur










