Punya Potensi Wisata, Direktur Bina Kepercayaan Dorong Pendataan Kekayaan Budaya Adat Kutai Barat
2 menit baca0 kali dibaca

2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR – Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek RI, Sjamsul Hadi mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) memperkuat pendataan kekayaan budaya masyarakat adat.
Hal ini disampaikannya saat menghadiri sarasehan kolaborasi lintas sektor bertajuk Asih Asah Asuh Menuju Warisan Tak Benda Dunia di Arena Terbuka Taman Jalur (ATJ) Kubar Jumat (4/7/2025).
“Kami mendorong Pemkab Kutai Barat agar mendata kekayaan budaya masyarakat adat, seperti tempat ritual maupun benda-benda budaya yang disimpan masyarakat. Jangan sampai terjadi benda hilang dan baru diketahui setelah sudah berpindah tangan atau dijual, lalu sulit dibuktikan kepemilikannya,” kata Sjamsul.
Menurutnya, dengan adanya pendataan yang jelas, identitas kepemilikan pusaka seperti mandau dan benda budaya lainnya akan terdokumentasi dengan baik. Jika suatu saat terjadi kasus hilang atau diperdagangkan, data tersebut dapat menjadi rujukan untuk menelusuri kepemilikannya melalui penegak hukum.
Lebih jauh, Sjamsul menyebut bahwa potensi utama kebudayaan masyarakat adat di Kubar juga sangat mendukung sektor pariwisata. Keberadaan rumah adat, misalnya Lima Lamin yang ada saat ini, menjadi bukti hidupnya kebudayaan dan eksistensi masyarakat adat.
“Kalau masyarakat adat aktif menampilkan budayanya, otomatis akan meningkatkan sektor pariwisata. Kegiatan ritual bisa dijadikan agenda pemerintah daerah, menjadi event tahunan dalam kalender budaya, sehingga minat wisatawan juga meningkat,” jelasnya.
Ia menambahkan, tren wisata ke depan semakin mengarah pada wisata spiritual. Dengan mempromosikan nilai-nilai budaya dan makna ritual, wisatawan akan tertarik datang untuk menyaksikan atau berpartisipasi. Hal itu dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan dengan potensi sumber daya alam yang lama-kelamaan habis.
“Kalau tambang suatu saat akan habis, hutan juga bisa habis, tetapi pengetahuan dan nilai budaya akan tetap bertahan selama masyarakatnya ada dan melakukan regenerasi,” ujarnya.
Kepada generasi muda masyarakat adat, Sjamsul juga berpesan agar terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal, dengan peran generasi muda adat, tradisi dan budaya leluhur akan tetap hidup dan lestari.
Editor: Erwin







Copyright © 2007 - 2026 Korankaltim.com | All Rights Reserved.
6 kali dibaca
Pusat gempa berada di laut 111 km tenggara Selayar
01 Okt 2026, 21:20:00 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG