Pada usia hampir 59 tahun, ia tak lagi kesulitan dalam memasukkan data pemerintahan kampung melalui aplikasi milik Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.
Semua ini berkat kehadiran teknologi internet berkecepatan tinggi via satelit, Starlink. Teknologi berbasis satelit yang dikembangkan oleh perusahaan milik Elon Musk ini mulai digunakan di Kampung Lirung Ubing sejak 2024.
Starlink menggantikan VSAT yang sebelumnya digunakan, namun memiliki keterbatasan dalam kecepatan dan kapasitas jaringan.
“Selama ini, kami mengalami kesulitan jaringan. Pernah ada Bakti Kominfo, tetapi jaringannya tidak cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan kami,” ujar Hanye.
Dorongan untuk menggunakan Starlink datang dari anaknya yang memahami teknologi. Setelah dipasang pada pertengahan 2024, manfaatnya langsung terasa.
“Sekarang, menonton video di Youtube, melakukan panggilan video via WhatsApp, dan menginput data kampung jauh lebih cepat dan lancar,” tambahnya.
Melihat manfaat yang begitu besar, Hanye berinisiatif agar fasilitas ini juga dapat dinikmati oleh seluruh warga kampungnya. Bersama anaknya, ia berdiskusi dan akhirnya menggagas konsep penyediaan fasilitas internet yang terjangkau bagi masyarakat melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK).
Pada 2024, Hanye menargetkan pemasangan 30 titik penerima sinyal internet di berbagai lokasi di kampungnya. Antusiasme warga pun meningkat, bahkan kampung-kampung tetangga seperti Data Naha dan Long Isun meminta agar jaringan internet ini dapat menjangkau wilayah mereka juga. “Dari perhitungan kami, masih memungkinkan untuk memasang hingga 60 titik,” ungkapnya.
Di akhir 2024, Hanye sedang mempersiapkan legalitas usaha BUMK yang telah terdaftar di Kementerian Hukum. Model layanan internet ini dirancang dalam bentuk voucher dengan paket harian, mingguan, dan bulanan, dengan harga yang terjangkau.
“Tujuan utama kami adalah memberikan pelayanan terbaik kepada warga. Selain itu, BUMK juga mendapatkan penghasilan tambahan dari usaha lainnya,” katanya.
Dampak positif dari kehadiran internet di Kampung Lirung Ubing mulai terasa. Apa lagi digitalisasi keuangan semakin berkembang, memungkinkan warga untuk bertransaksi secara daring melalui aplikasi perbankan.
Pemerintah kampung juga telah bekerja sama dengan bank pelat merah untuk menyediakan mesin transaksi uang digital, sehingga pembayaran gaji aparat kampung kini dapat dilakukan secara transfer tanpa harus pergi ke bank di Kecamatan Long Pahangai.
Tidak hanya itu, akses internet yang lebih baik juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Banyak warga mulai memanfaatkan media sosial untuk berjualan produk pertanian dan hasil kebun.
“Saya melihat warga mulai berjualan melalui grup Facebook. Mereka tidak perlu lagi pergi jauh ke pasar,” jelas Hanye.
Keberhasilan Kampung Lirung Ubing dalam mengadopsi teknologi ini menginspirasi kampung-kampung lain di Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari untuk melakukan hal serupa.
Misalnya, Petinggi Kampung Data Naha, Alexius Lejiu Ding, telah menganggarkan pengadaan internet berbasis Starlink untuk kebutuhan kantor pemerintahan kampungnya dengan rencana memperluas layanan bagi warga di masa mendatang. Selain pemerintah kampung, penyedia jasa swasta juga mulai hadir di beberapa wilayah, termasuk di Kecamatan Long Apari.
Mereka menawarkan paket internet berbasis Starlink dengan berbagai pilihan, mulai dari paket per jam dengan harga Rp5 ribu hingga Rp20 ribu per empat jam, paket harian Rp30 ribu, hingga paket bulanan Rp450 ribu. Paket berbasis kuota juga tersedia dengan harga Rp15 ribu hingga Rp30 ribu per gigabyte.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfostandi) Mahakam Ulu, Markus Wan mengakui bahwa kualitas dan penyebaran internet di Mahulu kini jauh lebih baik dibandingkan saat awal kabupaten ini dimekarkan pada 2013.
“Dulu, bahkan untuk mengirim pesan singkat melalui SMS saja sangat sulit. Sekarang, sebagian besar warga sudah bisa menikmati layanan seperti YouTube, streaming langsung, dan pertemuan daring melalui Zoom,” katanya.
Meski demikian, masih ada tantangan yang harus diatasi. Pada 2023, dari 50 kampung yang ada, masih terdapat 18 kampung yang mengalami blank spot.
Upaya untuk memperluas cakupan internet ke seluruh wilayah Mahulu terus dilakukan agar masyarakat di daerah perbatasan dapat menikmati kemudahan akses digital setara dengan warga di perkotaan.
Editor: Erwin