Ini adalah tradisi tahunan yang sudah menjadi ikon budaya masyarakat Mahulu dan rutin digelar setiap tahun, dibuka Bupati Mahulu Bonifasius Belawan Geh sore kemarin diikuti peserta dari 13 kontingen, khususnya di wilayah Kecamatan Long Pahangai.
Prosesi pemasangan leku atau gelang sebagai tanda penghormatan bagi tamu istimewa dilakukan untuk menyambut para tamu undangan.
Bonifasius menekankan pentingnya Pagelaran Hudoq Pekayang sebagai simbol kebanggaan budaya masyarakat Dayak Kayan dan Dayak Bahau di Mahulu yang telah diwariskan secara turun-temurun. “Hudoq Pekayang tidak hanya sebuah ritual adat, melainkan ekspresi kekayaan budaya dan spiritual yang mengandung filosofi mendalam tentang siklus kehidupan masyarakat, alam, dan hubungan kita dengan Sang Pencipta,” sebut Bonifasius.
Tradisi ini menjadi wujud nyata penghormatan terhadap alam dan harapan akan keberkahan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Mahulu. “Tradisi ini juga mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas yang kuat di antara masyarakat kita,” ujarnya lagi.
Mantan Ketua DPRD Mahulu itu yang hadir bersama sang istri Yovita Bulan Bonifasius serta Sekretaris Daerah Stephanus Madang dan beberapa Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Mahulu untuk terus melestarikan tradisi Hudoq Pekayang sebagai bagian penting dari upaya menjaga kekayaan budaya lokal di tengah tantangan modernisasi.
“Dengan semakin terbukanya akses global, tradisi budaya seperti Hudoq Pekayang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya yang mampu menarik perhatian di tingkat nasional bahkan internasional,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur