Basri mengatakan semenjak akses jalan di kampungnya menjadi jalur alternatif lintas kabupaten, Kampung Abit saat ini menjadi ramai lalu lalang kendaraan.
Ia pun mengatakan proyek semenisasi jalan yang ada sekarang ini dibangun dari dana desa dan belum secara keseluruhan bisa terpenuhi.
"Pemerintah kampung berinisiatif membangun semenisasi jalan yang rusak menggunakan Dana Desa dan swadaya dari masyarakat setempat," ucapnya, Jumat (20/9/2024)
Selain permasalahan jalan, Basri juga mengeluhkan pengadaan listrik dan air bersih di daerahnya masih sangat minim.
"Listrik kampung hanya mengandalkan tenaga surya, adapun mesin diesel yang disediakan kampung hanya beroperasi malam hari," keluhnya.
Menurutnya, permasalahan bahan bakar yang langka dan mahal menjadi penyebab utama tidak bisa memenuhi pasokan listrik warga selama 24 jam. Tidak jauh berbeda dengan permasalahan akses jalan dan listrik, pengadaan air bersih pun menurutnya sulit untuk terpenuhi di daerahnya.
"Air bersih hanya bisa kami bantu lewat pengadaan bak penampungan, belum bisa dialirkan ke rumah warga, sementara air sungai semenjak ada perusahaan sawit, menjadi keruh, hanya bisa dipakai buat MCK" lanjutnya.
Pemerintah kampung berharap agar pihak pemerintah kabupaten atau provinsi merespons permasalahan di daerahnya.
"Meskipun infrastruktur yang ada bukan dari pengadaan pemerintah kabupaten, namun kami berharap semua bisa dilanjutkan dan disempurnakan dan dianggarkan lewat APBD, sehingga bisa diajukan perawatan dan perbaikan juga nantinya," ucap Basri.
Kampung Abit adalah salah satu dari 16 kawasan paling ujung wilayah Kabupaten Kubar yang berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara, berjarak 26 kilometer dari pusat kecamatan dan 58 kilometer dari Ibu kota Kabupaten, Kampung Abit menjadi ramai sejak wilayahnya dilewati warga sebagai jalur alternatif untuk lebih cepat menuju Samarinda dan wilayah lainnya, karena jalan arteri dalam keadaan rusak dan sebagian dalam perbaikan.
Editor: Supiansyah