Diketahui keduanya sudah mendaftar ke KPU Mahulu dan siap bertarung dengan pesaing mereka pada Pilkada Serentak 2024 November mendatang.
Dalam program itu ada satu sektor yang harus dikembangkan, yakni sektor pertanian.
Lewat sektor ini, Avun-Juan berencana akan merubah taraf hidup masyarakat karena selain melibatkan masyarakat yang menjadi pelaku utama dalam pengelolaan padi gunung menjadi olahan barang jadi yang siap dijual, mereka juga berencana akan memberi bekal para petani sebesar Rp4 Juta per hektare untuk mendukung pengelolaan tersebut.
Hal ini disampaikan Avun kepada Korankaltim.com di Boot Media Center KPU Mahulu saat ditanya soal inovasi terbaru apa yang disiapkan Avun-Juan lewat program Gerbang Permata dalam mendorong perkembangan sektor pertanian di Mahulu.
"Itu inovasi pertama yang dulu pada awal saya dan Pak Boni ada biaya tanam Rp2 Juta per hektare sekarang kami tingkatkan menjadi Rp4 Juta per hektare.
Program ini tidak semata-mata hanya padi, tetapi targetnya untuk perkebunan," kata Avun.
Dari biaya tanam yang sekaligus meliputi biaya perkebunan dengan jumlah jutaan tersebut diakui Avun tidak berfokus pada biaya kebun melainkan biaya tanam padi gunung dan padi sawah yang menjadi bagian utama dalam pertanian masyarakat Mahulu.
"Kalau berladang kan hanya sekali setahun, nah kalau bersawah bisa dua atau tiga kali setahun. Artinya kebutuhan beras di Mahakam Ulu ini dan petani nya juga banyak, kenapa kita tidak kelola saja kemudian hasilkan beras sendiri," paparnya.
Alasan Avun dan Juan Jenau untuk memilih memasukan sektor pertanian menjadi program utama dalam program Gerbang Permata bertujuan untuk memberi manfaat bagi para petani di Mahulu. Selama ini para petani di Mahulu belum merasakan manfaat dari hasil perkebunan mereka sendiri sehingga dalam rangka memberi biaya tanam Rp4 Juta per hektare, Avun-Juan berencana setelah petani menanam padi, maka lahan tempat menanam padi itu bisa diupayakan untuk menanam tanaman lain seperti buah coklat, kopi, dan tanaman yang bisa memberi hasil bagi petani.
Sementara untuk wisata budaya sendiri disebut Avun mengharuskan Mahulu memiliki salah satu desa dengan sebutan Desa Budaya atau Desa Adat. Hal ini ditegaskan nya nanti harus ada yang terealisasi dan terfokus pada satu objek wisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Editor Aspian Nur