Namun di tahun 2023 lalu, kasus penyakit kekurangan gizi yang terbanyak dialami anak-anak tersebut kembali melonjak naik menjadi 20,8 persen, hal mana yang menjadi perhatian serius pemkab setempat.
Terkait hal itu, Pemerintah Kabupaten Mahulu menggelar rapat koordinasi percepatan penurunan stunting di gedung Badan Perencanaan dan Penelitian Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Mahulu Senin (19/2/2024) hari ini.
"Kenaikan itu menunjukkan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengatasi stunting di Mahakam Ulu ini," kata Wakil Bupati Yohanes Avun saat rakor.
Ditegaskannya, pihak terkait tidak boleh terlena dengan capaian sebelumnya karena penurunan stunting harus menjadi prioritas utama apalagi kasus stunting di Mahulu bukan karena masalah kesehatan melainkan permasalahan terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdampak bagi generasi penerus bangsa.
Mantan ketua DPRD Mahulu itu juga meminta tim percepatan penurunan angka stunting untuk lakukan pemetaan yang valid dan komprehensif karena cakupan pelayanan yang masih rendah.
Penurunan angka stunting harus menunjukkan ke arah yang lebih baik dan nyata serta program yang dijalankan harus tepat sasaran.
Menanggapi angka kenaikan kasus stunting pada tahun 2023 di Mahulu, Avun mengaku ragu dengan angka 20,8 persen tersebut dan khawatir itu hanyalah angka tembakan saja. Karena itu Avun meminta pendataan yang akurat.
"Harus diketahui angka 20,8 persen itu dimana letak-letaknya, yang stunting dimana dan siapa orangnya, di kampung mana di RT mana, kalau ada nomor rumahnya," tegasnya.
Editor: Aspian Nur