Sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita tersebut, masyarakat di ibukota kabupaten itu pun menggelar acara Laliq Ataq, ritual adat tanda suka cita yang rutin dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur masyarakat atas hasil panen yang berlimpah setelah bekerja selama berbulan-bulan sejak membuat ladang atau kebun padi.
Masyarakat dari 50 kampung di Mahulu yang memiliki ladang di masing-masing kampung, wajib melakukan ini dengan pelaksanaan dan penyebutan acara yang berbeda.
Upacara Laliq Ataq di Ujoh Bilang dirayakan masyarakat Suku Dayak Bahaw dengan meriah, meski ada juga beberapa kelompok kepala keluarga yang menggelarnya secara sendiri-sendiri di rumah dan kampung mereka masing-masing.
Tokoh Lembaga Adat Kampung Ujoh Bilang Dalmasius Apung menjelaskan, acara ini boleh diikuti oleh siapa saja, tidak ada pembatasan. "Seperti saat jemput padi di ladang bisa diikuti siapa saja, nah itu ramai-ramai karena sebagai tanda syukur," ujar Apung kepada Korankaltim.com Minggu (18/2/2204) hari ini.
Upacara Laliq Ataq diawali panen padi ketan di lading, setelah itu padi ketan yang sudah dipanen dibawa ke Balai Adat dengan cara diarak menggunakan perahu sebagaimana masyarakat menggunakan jalur sungai.
"Baru kemudian setelah padinya sampai di Balai Adat, buah-buah padi itu dilepaskan dari tangkai padinya," jelas Apung.
Keesokan harinya barulah padi tersebut dimasak dengan cara disangrai karena akan ditumbuk menggunakan lesung padi. "Setelah ditumbuk, dibersihkan, dibuang ampas padinya, barulah didoakan," jelasnya.
Padi yang ditumbuk itulah yang akan menjadi emping padi dalam ritual Laliq Ataq sehingga dengan didoakannya padi tersebut bertujuan untuk dapat memberi kesehatan bagi jiwa dan jasmani setiap orang yang memakannya.
Kegiatan ini di laksanakan oleh Kelompok Tani Sumber Usaha Daleh dan Kelompok Tani Sebenaq Jaya kampung Ujoh Bilang Kecamatan Long Bagun, Mahulu.
Editor: Aspian Nur