Namun, hal itu justru tak lagi terlihat oleh Wakil Bupati (Wabup) Mahulu Yohanes Avun di era modern saat ini. Dia mengaku saat dirinya masih usia muda, sapeq kerap dimainkan di tiap kampung. "Tapi saya lihat di Mahakam Ulu ini akhir-akhir ini tidak ada lagi anak muda yang main sapeq," sebutnya. Dia hanya melihat gitar yang merupakan alat modern kerap dimainkan anak-anak muda.
"Memang suara yang dikeluarkan itu sama, tapi kan itu bukan sapeq yang tradisional nya," imbuhnya. Kondisi ini membuatnya tergugah untuk membangun komunitas sapeq di Mahulu. "Jadi berkumpul lah kami penyapeq-penyapeq yang ada di ibu kota ini. Ya, kami yang hobi lah," jelasnya. Sehingga sejak 15 Juli 2018, komunitas Grup Sapeq Putra Daerah (GSPD) itu akhirnya terbentuk, sehingga sampai saat ini sudah ada 18 kampung yang tergabung. "Bahkan di Kota Samarinda itu ada cabangnya. Nah di situ justru di pimpin oleh pastor paroki Gereja Katedral Samarinda," terangnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan, awal mula terbentuknya GSPD ini terdiri dari lima orang. Namun, saat ini sudah ada ratusan orang yang tergabung. Orang nomor dua di Mahulu itu mengaku, awal mula bisa bermain sapeq sejak umur delapan tahun. Di mana saat itu dirinya diajari oleh kedua orang tuanya kemudian kerap melihat orang-orang tua yang bermain sapeq. "Tapi dulu kan malu-malu, malah dulu kalau iringi orang yang nari, nyapeq nya membelakangi orang," jelasnya.
Avun menyebut, kunci utama untuk mengetahui bermain sapeq adalah harus tahu nada dasar sapeq tersebut. "Nah kalau kita sudah tahu itu berarti kita sudah bisa, apapun bisa kita mainkan di situ. Termasuk kita buat tangga-tangga nadanya," paparnya.
Sehingga, jika sudah mengetahui dasar dan tangga nada dari sapeq sendiri maka pemain sapeq bisa menambahkan nada yang menurut penyapeq itu kurang. "Tapi kadang-kadang ada orang yang belum lihai dengan tangga nadanya karena sulit untuk bisa membuatnya," imbuhnya. Namun, menurutnya, jika seseorang sudah lama memainkan sapeq, pasti akan lihai meski ada puluhan bahkan ratusan sapeq di hadapannya. "Kenapa kita bikin dia banyak, supaya tidak pindah-pindah. Jadi kalau sedikit itu kan banyak nada yang tidak ada di situ. Tapi kalau banyak tinggal tangannya lagi kayak mana," tutupnya.
Editor: Maruly Z