Tak banyak orang yang tahu kalau perjalanan menuju kecamatan yang berdekatan dengan perbatasan Sarawak, Malaysia ini cukup membuat heart spot alias spot jantung karena harus melewati enam riam, sungai kecil dengan arus deras.
Enam riam itu terdiri dari Riam Haloq, Riam Uang, Riam Udang, Riam Batu Berang, Riam Batu Kelo dan Riam Panjang. Siapapun wisatawan yang ingin berkunjung ke Kecamatan Lopa menggunakan jalur sungai harus melewati enam riam tersebut karesna jadi satu-satunya jalur lalu lintas perahu cepat atau speed boad yang beroperasi di Sungai Mahakam menuju 13 kampung yang ada di Kecamatan Lopa.
Lukas Gawing, motoris speed boad dari Long Bagun menuju Kecamatan Lopa menyebut dari enam riam yang kerap ia lalui itu, Riam Udang dan Riam Panjang selalu membuatnya waswas karena saat Sungai Mahakam sedang banjir, aliran didua tempat tersebut sangat deras dan pusaran air yang begitu banyak.
"Pusarannya besar-besar. Kalau Riam Panjang tidak begitu deras arusnya kalau banjir. Kecuali kalau Sungai Mahakam lagi surut, baru kami waswas, Kalau Riam Udang justru tenang kalau lagi surut" jelas Lukas.
Riam Udang disebut Lukas kerap menelan nyawa saat banjir sehingga saat Sungai Mahkam sedang banjir, dirinya bersama motoris lain tidak berani memutuskan untuk melakukan perjalanan ke hulu. "Ombaknya besar kalau banjir. Makanya sewaktu banjir kami jalan kaki karena tidak berani melewati, mau tidak mau batal mudiknya, seperti hari ini kami batal mudik bawa penumpang karena informasi dari teman di ulu ada banjir," papar Lukas.
Gelombang Riam Udang bisa mencapai lima meter, sementara Riam Panjang justru aman. Tak kalah mencekam dengan Riam Udang, Riam Panjang justru memiliki lima anak riam yang ketika Sungai Mahakam sedang surut membuat siapa saja yang melewatinya harus menahan napas. Lima anak riam itu terdiri dari Riam Bang Bok, Riam Keneheq, Riam Beliuq, Riam Banpalang, Riam Hidah dan Riam Huluq.
"Dalam perjalanan mudik pernah dua kali kecelakaan ringan, bisa diselamatkan di daerah Riam Beliuq dengan Riam Udang," jelas Lukas.
Editor: Aspian Nur