Misalnya seperti yang dilakukan Yuliana Angin Dasa (73) yang tinggal di Desa Laham, Kecamatan Laham, Mahulu ini memilih untuk membuat lempuk durian karena menurutnya ketika musim durian telah selesai, lempuk hasil buatannya itu bisa kembali dijual.
Angin sapaan akrabnya mengatakan, cara membuat lempuk durian ini dengan cara digoreng tanpa minyak sambil diaduk secara terus-menerus sampai mengeluarkan wangi lempuk durian selama kurang lebih satu hari. "Kayak bawang kita goreng lah, kalau mengeluarkan bau ya sudah. Begitu juga dengan lempuk durian ini," sebutnya.
Setelah itu dijelaskannya, setelah durian selesai digoreng kemudian mengeluarkan wangi yang sedap maka siap dibungkus dalam daun rotan dan diikat. "Kalau pakai daun rotan lebih awet. Makanannya tidak mudah berulat. Tidak mudah basi," terangnya.
Dia mengatakan, bahwa hal ini kerap dilakukan orang-orang Dayak pada zaman dahulu sehingga di zaman serba canggih seperti ini dia mengaku kembali membuat apa yang sudah dilakukan dirinya sejak masih belia.
Untuk diketahui, menumpuknya durian di Mahulu saat ini membuat para petani durian kebingungan menjual hasil panennya. Bahkan, menurut laporan Sisilia Doh, warga Ujoh Bilang mengatakan, ada penjual yang menjual duriannya dengan harga Rp5 ribu per buah.
Editor: Maruly Z