Nyanyian ritual bun yang dimiliki oleh orang Dayak Kayan Mahulu ini mengalami kemunduran karena tradisi lisan ini tak lagi menarik dibenak pelantun generasi mudanya melainkan para tetua-tetua adat yang kerap melantunkan bun.
Hal ini dikatakan oleh tokoh adat Dayak Kayan yang ada di Desa Laham, Yosep Mereng Nyangun. Nyanyian ritual bun saat ini sudah tidak sering dilantunkan karena selain pelantun yang sudah lanjut usia (lansia) juga tidak memiliki eksistensi di masyarakatn padahal dalam nyanyian bun banyak memuat kisah-kisah nenek moyang yang dapat dipedomani dalam hidup saat ini.
“Kayak kisah anak yatim piatu kan bisa diambil cara hidup anak yatim piatu, bagaimana mereka dengan masyarakat, keluarga dan orangtua angkat mereka,” ujar Yosep kepada Korankaltim.com, Jumat, (5/1/2024) hari ini.
Turunnya tradisi lisan di Mahulu sangat disayangkan karena sebelum masyarakat Dayak di Mahulu mengenal agama yang saat ini sudah diakui negara, mereka dahulunya kerap menjalankan keseharian sesuai dengan adat istiadat, budaya dan tradisi yang diturunkan leluhur atau nenek moyangnya.
“Seperti jaman dulu kan kita mau melakukan apa saja selalu ijin kepada leluhur. Meski itu masih ada sampai saat ini saat ada ritual adat saja tapi paling tidak nyanyian seperti ini harapannya tetap bertahan,” ucap Yosep lagi.
Dalam nyanyian bun memang banyak memuat kisah-kisah ajaran dan cara hidup. Seperti kisah yang mengajarkan anak yatim piatu, seorang janda dan duda, orang miskin, kemudian cara seseorang dalam berperilaku dengan masyarakat.
Selain itu juga memberi cara hidup bagi sepasang suami istri yang mengarungi bahtera rumah tangga dalam menghadapi masalah, cara hidup orang Dayak dalam menerapkan adat istiadat dan lain sebagainya. “Karena orang Dayak Kayan hampir semua adat istiadat diambil dari situ, contohnya pernikahan adat,” sebut Yosep.
Sementara untuk komponen yang digunakan masyarakat Dayak Kayan ketika ingin melantunkan bun berupa telur ayam mentah, beras dan pisau. Sedangkan musik pengiring nyanyian bun yang digunakan adalah teravang (perisai) yang bentuknya seperti sapeq.
Editor: Aspian Nur