Tokoh adat Dayak dari suku Kayan yang ada di Desa Laham, Kecamatan Laham, Mahulu, Yuliana Angin Dasa menjelaskan, tradisi bersirih biasa digunakan sebagai alat komunikasi antar sesama. Selain itu, bersirih juga dianggap sebagai media sambung rasa, hal yang sama dikatakannya bahwa bersirih juga terkadang dianggap sebagai pengganti minuman atau makanan.
"Misalnya ada orang bertamu ke rumah kita kemudian kita tidak punya kopi atau gula, atau bahkan makanan. Maka sirih dan pinang inilah kita suguhkan sebagai pengantar komunikasi kita," terangnya.
Komponen bersirih dalam tradisi suku Dayak di Mahulu terdiri dari daun sirih, buah pinang muda dan tua, kapur sirih yang dibuat dari cangkang kerang sungai, serta tembakau.
Untuk tempat penyimpanan komponen bersirih ini, orang Dayak Mahulu biasa menyimpannya di dalam sebuah wadah yang dibentuk seolah seperti mangkuk atau keranjang kecil yang biasa disebut kiran atau barangk.
Sehingga, Angin sapaan akrabnya mengatakan bahwa ketika ada seseorang yang bertamu ke salah satu rumah maka kiran atau barangk itu lah yang disuguhkan kepada tamu sebagai pembuka obrolan. Berbeda dengan kebiasaan bersirih masyarakat di Yogyakarta yang sejak 1950 tradisi bersirih sudah lama ditinggalkan, di Mahulu tradisi bersirih di Mahulu justru tidak boleh ditinggalkan lantaran masyarakatnya masih menggunakan bersirih sebagai alat komunikasi antar sesama.
"Makanya kita orang Dayak dari dulu sampai sekarang itu dituntut harus punya kiran. Meski kita tidak menyirih tapi kita harus punya itu, karena itu yang kita pakai jika ada yang bertamu," katanya kepada korankaltim.com, Jumat (29/12/2023) hari ini.
Lebih lanjut, katanya, di Mahulu hampir tiap Kepala Keluarga (KK) menanam pohon pinang dan daun sirih. Karena itu untuk mempermudah mereka saat kehabisan stok buah pinang dan daun sirih di rumah.
"Biasanya ditanam di ladang atau kebun cuma kan jauh aksesnya ke sana sementara kita mau menyuruhnya saat itu juga," serunya.
Sehingga, lebih lanjut dia mengatakan dengan bersirih orang Dayak sudah menjadikan itu sebagai kebiasaan pembuka obrolan antar satu sama lain baik di dalam kegiatan apapun. Baik saat seseorang itu bertamu maupun saat di situasi adanya acara ritual adat.
Editor: Maruly Z