Pelaksanaan upacara bendera diwarnai dengan semarak baju adat khas suku Dayak yang dikenakan para peserta dan tamu undangan yang hadir dalam upacara tersebut. Terlihat dari beberapa peserta upacara perempuan menggunakan pakaian adat khas perempuan Dayak yang dipadu dengan seraung khas suku Dayak Kenyah, kemudian ada pula yang menggunakan topi atau lavung khas perempuan Dayak yang dipenuhi dengan berbagai macam ukiran manik.
Di sisi lain, peserta dan tamu undangan laki-laki yang hadir dalam upacara tersebut juga turut menggunakan pakaian khas Dayak, antaranya memadukan baju atau rompi khas Dayak dengan kemeja maupun baju batik dan menggunakan topi atau lavung khas laki-laki Dayak.
Hal ini tidak ditemukan dalam upacara bendera hari ini saja melainkan dalam upacara-upacara sebelumnya sudah sering digunakan sebagai wujud cinta terhadap budaya dan upaya untuk melestarikan budaya yang ada di Mahulu.
Berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh peserta dan tamu undangan yang hadir, Wakil Bupati Mahulu Yohanes Avun terlihat berbeda sebagaimana dia memilih menggunakan baju atau rompi dan topi adat yang terbuat dari kulit kayu.
Avun menyebut, baju yang ia kenakan itu sebenarnya khas dari suku Ot Danum namun bisa dikenakan oleh siapa saja, terlebih masyarakat suku Dayak, "yang lazim saya pakai ini punya Ot Danum, itu adanya di Danum Paroy," imbuh Avun.
Ketika ditanya mengenai makna dari baju yang ia kenakan itu ia mengaku makna baju tersebut sama seperti baju-baju khas Dayak yang dikenakan orang Dayak pada umumnya hanya saja sering digunakan dalam ritual-ritual tertentu.
"Namanya kan kumut kalau dalam Bahasa Bahaw, kalau di daerah Barong kan disebut kulut jumoq," jelasnya.
Editor: Maruly