Tak pelak kondisi ini membuat pengendara roda dua dan roda empat kebingungan mencari BBM baik Pertalite maupun Pertamax juga Solar. Tak hanya itu, pedagang kelontong di Ujoh Bilang, Long Melahan dan Long Bagun yang menjual BBM juga terpaksa berkeliling untuk mencari untuk dijual kembali.
Sampir Diardjo dan Islamiah, suami istri pedagang kelontong di Ujo Bilang kepada Korankaltim.com Jumat (3/11/2023) mengaku sudah berkeliling mencari BBM sejak SPBU Tikah tutup. Keduanya harus mencari ke tengkulak minyak yang ada di Long Bagun maupun Long Melaham. “Syukur-syukur mau dikasih, kalau tidak kita bisa apa?. Kami biasanya jual enam belas ribu rupiah karena kami beli Rp15 Ribu,” ujar Sampir.
Sementara Martinus Mereng, seorang tukang ojek yang mangkal di Pelabuhan Ujoh Bilang ketiadaan BBM berpengaruh dengan tarif yang ia berikan kepada penumpang, yaitu Rp30 Ribu per penumpung untuk jarak tempuh sekitar 100-200 meter sedangkan untuk jarak tempuh 300-500 meter dengan tarif Rp35 Ribu sampai Rp40 Ribu. “Tapi kadang-kadang mereka tidak terima harga segitu. Jadi, mau tidak mau saya terima saja dengan imbalan yang diberi sesuai keinginan mereka,” jelas Martinus.
Pemilik SPBU Tikah, Musa Sanjaya, tutupnya SPBU sudah sering terjadi karena mereka menyuplai dari Kota Samarinda yang mengangkut menggunakan kapal ponton dan memakan waktu lima sampai enam hari. Faktor alam di Mahulu yang cenderung tidak stabil juga berpengaruh . “Pasang surutnya sungai tidak diketahui, sekarang saja air Sungai Mahakam sedang surut ,” jelas Musa.
Musa terkadang harus menurunkan armada untuk mengangkut atau mengambil BBM dari Mahulu ke Kabupaten Kutai Barat atau di pelabuhan Long Iram lantaran karena kapal ponton tidak berani meneruskan perjalanan ke Mahulu.
“Mereka pasti pikir-pikir mau masuk Mahulu, jangan kan yang di Long Iram, kalau pontonnya singgah di Long Melaham juga saya mau tidak mau harus jemput kesana karena tidak berani sampai ke sini karena belum diketahui ke dalaman sungainya,” sebut Musa.
Editor: Aspian Nur