Masalah global terutama perang Rusia-Ukraina jadi factor utama karena bahan dasar pembuatan pupuk import dari Rusia, ditambah gangguan pasca pandemi khususnya angkutan logistic. Selain itu bahan bakar minyak dan gas alam untuk bahan baku pembuatan urea juga naik, ditambah pembatasan eksport bahan baku dari China dan Rusia.
Karena itulah Kementerian Pertanian merevisi Permentan Nomor 41 Tahun 2021 mengenai Pengurangan komoditi dari 70 komoditas menjadi sembilan komoditas,dengan maksimal lahan lebih kecil dari dua hektar dan pembatasan jenis pupuk hanya untuk urea dan NPK.
Tanaman yang boleh menggunakan pupuk subsidi juga dibatasi, untuk tanaman pangan padi, jagung dan kedelai, untuk tanaman perkebunan kopi, lada, kakao kemudian tanaman hortikultura, bawang merah, bawang putih dan cabe.
Distan Kutai Barat meminta petani menggunakan pupuk anorganik, misalnya kompos, pupuk hayati atau pupuk cair yang saat ini masih terjangkau harganya. Distan mengakui tidak bisa membantu semua petani, hanya beberapa petani bisa dibantu itupun dalam jumlah terbatas.
"Untuk tahun 2022 ini kami ada pengadaan pupuk hayati, pupuk organik cair, saat ini dalam proses lelang harapannya ini bisa bermanfaat mengurangi beban dari petani, pengadaan pupuk hayati ada dari dinas pertanian Kutai Barat ditambah bantuan dari provinsi," jelas Petrus.
Petrus juga menyampaikan pesan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat agar masyarakat bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami tanaman pangan,guna menjaga ketahanan pangan,paling tidak untuk konsumsi sendiri.
Penulis Sunardi
Editor: Aspian Nur