“Awal Januari 2022 lalu terjadi lagi dan dua pekan terakhir kembali terulang. Semuanya ini susulan dari tanah longsor yang sebelum-sebelumnya. Karena hanya ada satu titik saja disitu di Wa’ Yagung,” papar Mulyadi dilansir dari Korankaltara.com Rabu (16/3/2022) hari ini.
Desa Wa’ Yagung yang dihuni kurang lebih 300 kepala keluarga tersebut memang berada di daerah terjauh dari pusat kecamatannya. “Terisolir wilayahnya. Kalau kesana dengan jalan kali dari pusat kecamatan 6 jam. Yang lama naik gunungnya, kurang lebih 4 jam,” ungkap Mulyadi.
Lokasinya memang berada di penggiran tebing. Masyarakat disana membangun rumah yang tak jauh dari aliran sungai. “Jadi, ketika pohon-pohon mulai hilang dan habis, yang terjadi pasti longsor,” sebutnya.
Dampak bencana banjir dan longsor Desa Wa’ Yagung, BPBD Nunukan mencatat kerusakan dan kerugian mencapai Rp13,9 miliar. Kerusakan meliputi sektor Infrastruktur (subsektor transportasi, energi dan sumber daya air) dan sektor ekonomi (subsektor pertanian).
Untuk sektor infrastruktur penilaian kerusakannya 94,23 persen atau sebesar Rp13 miliar lebih.
Hal itu dikarenakan jalan Desa Long Umum menuju Desa Wa’ Yagung, infrastruktur energi desa Wa’ Yagung, insfrastruktur sumber daya air (jaringan irigasi), infrastruktur air dan sanitasi (air bersih) yang semuanya kategori rusak berat.
Penilaian kerusakan dan kerugian yang terjadi pada sektor ekonomi ada 5,77 persen atau sebesar Rp806 juta lebih. Ini dikarenakan ada 13 lahan sawah dengan total luasan sebesar 8.300 M2 dari total luasan sawah desa sebesar 13,46 ha rusak akibat tertimbun longsor bebatuan.
“Ada yang sudah dipanen tapi hasilnya rusak juga. Kasihan mereka, karena sumber pendapatan mereka dari berkebun itu. Jadi, kalau rusak kena musibah, dimana lagi mereka mau dapat. Mau cari bahan keluar, kan jauh juga,” sebut Mulyadi.
Saat ini masyarakat bersama unsur di desa tersebut temasuk personel BPBD masih melakukan proses pembersihan dengan cara manual.
“Nah, untuk proses pembersihannya sangat sulit apabila tidak di lakukan dengan menggunakan alat berat, namun untuk mendatangkan alat berat seperti excavator saat ini sangat tidak mungkin karena kondisi jalan yang benar-benar rusak,” katanya.
Selain itu bencana longsor juga mempengaruhi aliran listrik yang ada di rumah-rumah warga karena sumber listrik yang menggunakan kincir air di pinggiran sungai ikut rusak.
“Kalau air bersih memang berdampak juga, tapi kan mereka ini di penggunungan jadi banyak sumber air lainnya. Untuk listrik, warga saat ini ada yang gunakan genzet maupun pelita,” pungkas Mulyadi.
Editor: Aspian Nur