Imbasnya, ada 79 desa di Kecamatan Lumbis dan Sembakung terdampak, dimana 3.179 rumah terendam, 3.755 kepala keluarga dan 10.880 jiwa dan fasilitas umum harus merasakan penderitaan akibat musibah alam ini.
Bencana banjir tahunan yang terjadi di wilayah Lumbis dan Sembakung kini mendapat sorotan dari Menteri Sosial (Mensos) RI, Tri Rismaharini yang berkunjung sore kemarin.
Kunjungan yang didampingi oleh Anggota DPR RI Dapil Kaltara Deddy Sitorus ini, dihadiri Gubernur Kaltara dan Bupati Nunukan.
Risma menggelar dialog bersama warga Sembakung. Alhasil, banyak masukan maupun keluhan direspons oleh Risma.
Risma akan menyampaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat ke dalam rapat terbatas, baik bersama menteri maupun Presiden RI.
“Insya Allah, apa-apa yang menjadi masukan akan saya laporkan ke Bapak Presiden,” kata Risma saat berdialog.
Dari seluruh masukan warga ada beberapa yang memang bukan kewenangannya. Namun sebagian besar masukan langsung diputuskan oleh Risma. “Untuk kewenangan saya, maka saya akan langsung putuskan sekarang,” tegasnya.
Seperti di antaranya untuk penyaluran air bersih yang menjadi permintaan di hadapan warga Risma memutuskan langsung dibantu. “Saya akan kirim staf saya untuk melakukan survei penyaluran air bersih,” jelasnya.
Untuk penyaluran bansos diperiksa terlebih dahulu, misalnya keluhan masyarakat pemegang kartu bantuan namun dari awal Januari hingga Desember 2021, belum menerima. “Nanti kami cek. Kemarin memang ada masalah soal akses lintas penyaluran,” bebernya.
Untuk pemintaan Kampung Siaga Bencana dinaikkan statusnya menjadi Kawasan Siaga Bencana (KSB), Risma menyetujui mengingat personel KSB ternyata melayani satu kecamatan. “Nanti kami akan tentukan titiknya. Saya minta pak camat tentukan,” ujar Risma lagi.
Untuk relokasi yang juga menjadi permintaan warga, dia mengatakan perlu dibahas lebih detail. “Lahan dimana, dan harus dibahas. Kalau dibahas di sini kan waktu terbatas,” tutup Risma.
Banjir yang selalu melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Utara harus menjadi perhatian pemerintah pusat. dengan adanya keterlibatan pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait, persoalan banjir dapat ditangani lebih fokus dan terarah.
Anggota DPR RI Komisi VI Deddy Yevri Hanteru Sitorus mengatakan, Kabupaten Nunukan menjadi yang paling sering dilanda banjir. Salah satu wilayah langgananan banjir berada di Kecamatan Lumbis Pansiangan sampai ke hilir, Sembakung, dan lain sebagainya.
“Untuk penanganan banjir di Kaltara, memerlukan sinergitas berbagai kementerian, seperti PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), yang memiliki Ditjen DAS (Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung), dan Ditjen Cipta Karya. Mereka harus duduk bersama untuk menyelesaikan bagaimana penanganan sungai, misalnya daerah mana yang harus ditinggikan atau merelokasi masyarakatnya,” ujar Deddy.
Banjir di Kaltara juga butuh pelibatan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Luar Negeri. Sebab, hulu air sungai berada di Malaysia. Sehingga perlu dilakukan diplomasi untuk menyelesaikan persoalan ini. Kemudian, komunikasi dengan Kementerian Agraria dan Kementerian Kehutanan.
Sebagai langkah awal untuk penanganan banjir menjadi masalah nasional. Anggota DPR RI daerah pemilihan Kaltara ini melakukan komunikasi dengan Menteri Sosial Tri Rismaharini untuk kembali menyambangi Kaltara dan langsung ke lokasi banjir. Risma kemudian datang ke Kaltara dan langsung menuju lokasi dengan menggunakan speedboat khusus.
“Bu Menteri datang ke Sembakung dan melihat secara langsung banjir dan dampaknya, serta mendengarkan aspirasi dari masyarakat. Selain itu, juga bertujuan memberikan bantuan sosial. Kedatangan Bu Risma sebagai menteri bisa menjadi bahan saya melakukan lobi dengan kementerian terkait,” paparnya.
Warga terdampak banjir di Sembakung mendapat bantuan berupa selimut, susu bayi, pembalut, pakaian dewasa dan anak-anak, makanan siap saji, minyak goreng, dan sembako lainnya. “Ini harus menjadi perhatian nasional. Banjir ini sudah berulang. Banjir yang merupakan kiriman dari negara tetangga (Malaysia),” tegas Deddy, sebelum mendampingi Risma ke Sembakung. (*)
Editor: Aspian Nur