Pertama, ring 1 atau kawasan cincin api yang membentang dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Ring 2 berada di Papua dan Maluku, sedangkan ring 3 berada di Kalimantan.
“Di antara daerah-daerah lain, Kalimantan paling minim. Yang perlu dicatat, di Kalimantan itu ada tiga sesar aktif. Pertama, sesar Meratus di Kalimantan Selatan. Kemudian Sesar Mangkaliat yang memanjang dari daerah Maratua melewati Tarakan sampai ke Semporna Malaysia. Dan yang paling penting ada sesar Tarakan: patahan Tarakan memanjang dari barat pulau sampai ke timur,” ungkap Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi.
Selain itu, masih ada sesar kecil tetapi belum ada nama. Melihat kondisi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pernah melakukan kajian bersama para ahli pada tahun 2016.
Hasil hipotesis sementara, Tarakan berpotensi tsunami, saat ada gempa dengan magnitudo yang tinggi.
“Tarakan juga pernah ada gempa dengan kekuatan 7,0 SR (skala richter – yang sejak 2008 diganti menjadi Magnitudo), sehingga potensi itu bisa saja kembali terjadi. Dan kewajiban kami mengedukasi kepada masyarakat, ketika gempa dan tsunami apa yang harus dilakukan,” sebut Sulam dilansir dari laman Korankaltara.com Senin (3/1/2022) hari ini.
Diakui Sulam, selama tahun 2021, aktivitas kegempaan di Kalimantan meningkat. Namun dirinya tidak menyebutkan ada berapa kejadian dan berapa besar kekuatannya.
Sesar atau lempeng, patahan menimbulkan gempa karena rotasi bumi yang selalu bergerak. Kemudian sesar akan menyesuaikan posisi yang nyaman, sehingga akan ada momen adanya pelepasan energi tumbukan yang menyebabkan goncangan.
Kemudian akan diikuti oleh goncangan susulan karena proses penyesuaian kembali sesar. “Pada proses penyesuaian diri lagi, biasanya terjadi gempa susulan itu,” ucapnya.
BMKG memperbanyak pemasangan alat seismograf, termasuk di Kaltara yang saat ini sudah ada di Tarakan dan Kabupaten Tana Tidung. Dengan harapan, petugas BMKG cepat melakukan analisis apakah berpotensi tsunami atau tidak saat terjadi gempa.
“Sehingga golden time, atau waktu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan diri betul-betul bisa dilakukan masyarakat. Ada juga alat untuk merekam gempa untuk memberi masukan kepada kawan-kawan yang ada di pusat gempa di Jakarta,” tutup Sulam.
Editor: Aspian Nur