Pemberian nama RSUD dr H Jusuf SK ini dihadiri istri almarhum Jusuf SK dan anak ketiganya. Dalam kesempatan tersebut, Zainal mengatakan tahapan pemberian nama ini berlangsung cukup singkat dan cepat, tetapi dilakukan sesuai dengan tahapan.
“Ada beberapa tahapan yang kita lakukan, akhirnya dibentuk tim dan rapat tim untuk memutuskan nama RSUD Tarakan ini dengan nama RSUD dr H Jusuf SK. Jadi, ini sudah proses dan sudah diputuskan nama beliau yang disematkan di rumah sakit ini, untuk mengenang jasa-jasa beliau yang juga seorang dokter,” kata Zainal.
Selama masih aktif melayani pasien, Jusuf SK dikenal tidak pilih kasih. Bahkan dari kalangan miskin dan tidak mampu tetap diobati meskipun tidak memiliki biaya untuk pengobatan.
“Saya sudah tanda tangan untuk nama RSUD ini, dan beliau pernah juga menjabat sebagai direktur di RSUD dan menjadi dokter. Beliau juga merupakan akademisi, salah satu penggagas berdirinya UBT (Universitas Borneo Tarakan). Beliau juga pernah menjadi Wali Kota Tarakan. Selama menjabat, banyak perubahan yang begitu cepat,” ungkap Zainal.
Berbagai pembangunan yang sudah dilakukan bisa dinikmati sampai saat ini. Hal ini karena keseriusan sosok Jusuf SK untuk mewujudkan Tarakan yang sangat baik. Beberapa faktor inilah yang diambil dalam rapat pemberian nama RSUD.
Dengan adanya pemberian nama ini, diharapkan adanya peningkatan pelayanan. Semangat juang yang dimiliki Jusuf SK semasa hidup, diharap dapat mengilhami kerja-kerja pelayanan RSUD.
“Harus ada peningkatan pelayanan. Dokter-dokter yang di sini, perawat-perawat semua, pegawai yang ada di sini, harus memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat,” papar Zainal.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr H Jusuf SK, Franky Sientoro menambahkan, sejak tahun 1957 atau selama 64 tahun, rumah sakit dibangun belum pernah memiliki nama sampai akhirnya penghujung tahun 2021 ini resmi memiliki nama. Dengan pergantian nama ini, secara otomatis proses administrasi juga akan berubah.
Anak almarhum dr Jusuf SK Ari Yusnita mewakili keluarga mengucapkan terima kasih nama ayahandanya dijadikan sebagai identitas rumah sakit karena menjadi penghargaan bagi keluarga besarnya.
“Kalau dulu pas lagi jalan atau acara undangan, kami sering cerita kalau bapak sering melakukan lobi-lobi ke pusat untuk mendapatkan anggaran pembangunan. Sama waktu saya masih SD, rumah sakit ini selalu ramai dan bapak orangnya selalu turun ke lapangan. Bapak juga pernah menjabat sebagai direktur sekitar tahun 1987-1994,” kata Ari.
Ari mengaku sebelumnya sudah mendapat kabar jika Jusuf SK masuk dalam salah satu nama yang akan disematkan pada RSUD Tarakan. Namun karena yang bersangkutan masih hidup, rencana tersebut belum bisa diwujudkan. “Nama yang direkomendasikan ada 8, tetapi yang sekarang dipakai nama bapak,” ungkap Ari.
Sumber: Korankaltara.com
Editor: Aspian Nur