Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kinabalu mengungkapkan hal ini dimana para nelayan dari Indonesia dan Malaysia kerap menjadi korban penculikan oleh kelompok teroris tersebut.
Karena itulah keamanan laut di teritorial Malaysia pun dipertanyakan oleh KJRI Kinabalu. Pasalnya, antara Indonesia dan Malaysia sudah ada kesepakatan dalam melakukan patroli laut dan menjamin keamanan wilayah laut di negara masing-masing.
Konsul Pelaksana Fungsi Konsuler II KJRI Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, M Muhsinin Dolisada menyampaikan, motif kelompok Abu Sayyaf yang melakukan penculikan didasari motif keuntungan.
Kepada negara bersangkutan, termasuk Indonesia, akan dimintai tebusan apabila ada WNI ataupun WNA yang menjadi tawanan mereka.
“Keamanan laut di Malaysia harus diperkuat lagi. Sudah banyak warga kita (nelayan Indonesia) yang menjadi korban (penculikan). Memang berhasil diselamatkan, tapi ini akan menimbulkan rasa takut untuk mencari ikan lagi,” kata Muhsinin.
Ada ribuan orang WNI di wilayah kerja KJRI Kinabalu yang berprofesi sebagai nelayan. Karena selain bekerja di perkebunan kelapa sawit, menjadi seorang nelayan di Malaysia juga menjadi pilihan para WNI ketika menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran Indonesia.
Meskipun sebenarnya kedatangan mereka ke Malaysia secara ilegal, namun keamanan sebagai TKI harus tetap terjaga. Terutama dari kelompok Abu Sayyaf yang sudah banyak memakan korban.
“Yang paling banyak kerja di kapal-kapal Malaysia itu adalah warga Indonesia. Mereka ke sini (Malaysia), memang ada sebagai pekerja di ladang maupun nelayan,” ungkapnya.
Kelompok Abu Sayyaf memang kerap beroperasi di perairan karena yang menjadi target sasarannya adalah para nelayan yang sedang menangkap ikan.Tidak terdatanya jumlah WNI yang berprofesi sebagai nelayan di wilayah kerja KJRI Kinabalu disebabkan berbagai hal.
Selain mereka datang sebagai pendatang asing tanpa izin (PATI), mereka juga tidak melaporkan diri kepada KJRI Kinabalu. Akibatnya, tak jarang juga dari mereka harus diamankan oleh aparat keamanan Malaysia, lalu dideportasi.
“Karena selama ini sudah banyak sekali warga Indonesia di Sabah yang dideportasi karena datang secara ilegal. Sebelum dideportasi, mereka harus jalani hukuman dulu,” ungkap Muhsinin.
Sumber: Korankaltara.com
Editor: Aspian Nur