Yakni, masing-masing miliki pembangkit listrik dan penyuplai untuk daerahnya. Dimana, ada sekitar 50-an pembangkit sistem isolated. Untuk itu, PLN tengah mengebut pembangunan jaringan transmisi interkoneksi Kaltim – Kaltara.
“Dari Malinau untuk Kaltara, kami sudah menyelesaikan transmisi 150 KV dari Malinau ke Tideng Pale. Dalam waktu dekat di tahun ini, yang menghubungkan Kaltim dengan Kaltara, yaitu Tanjung Redeb dan Tanjung Selor juga dalam progres. Saat ini sudah mencapai 85 persen,” ungkapnya.
Untuk Jaringan transmisi di Kaltim sudah terhubung dengan Provinsi Kalimantan Selatan dan Provinsi Kalimantan Tengah. Tersisa ke Kaltara yang belum terkoneksi, sehingga ditargetkan pada 2023 mendatang sudah selesai sampai Malinau.
“Artinya, nanti juga dalam kesempatan yang bersamaan pembangunan masih diteruskan dari Tanjung Selor ke Tideng Pale. Sehingga nanti diharapkan di tahun 2023, dari Kaltim sampai Malinau (Kaltara) sudah tersambung secara transmisi,” sebut Ramadhansyah lagi.
Sementara itu, secara bersamaan di Kaltim juga tengah diselesaikan yaitu interkoneksi dari Sangata – Maloy – Tali Sayan – Tanjung Redeb sehingga secara serentak diharapkan pada 2023 mendatang, kelebihan daya yang besar di Kaltim bisa sampai di Kaltara. “Dan Kaltara secara pasokan daya listrik akan lebih andal,” papar Ramadhansyah.
Zainal merespons baik dan mendukung upaya PLN menyelesaikan pembangunan jaringan transmisi interkoneksi tersebut. Pasalnya, dengan masuknya listrik di Kaltara, akan mendorong pertumbuhan ekonomi. “Beliau sangat antusias dan akan membantu jika ada kendala dan hambatan. Tentunya kami akan berkoordinasi lebih baik,” tutup Ramadhansyah.
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di korankaltara.com hari Selasa 22 Juni 2021 dengan judul Kebut Jaringan Transmisi Interkoneksi Kaltim – Kaltara