“Kami sangat menyayangkan sekali, kenapa Pemerintah Malaysia sepertinya acuh dan cuek sekali kalau narkoba itu mau masuk ke Indonesia, khususnya di pintu Kaltara,” kata Samudi. Perjanjian antarkedua negara sudah ada dan disepakati bersama, berupa kerjasama untuk memberantas narkotika, terutama sabu.
Namun kenyataannya narkoba yang masuk dari Tawau, Malaysia lolos masuk ke Indonesia. “Sabu itu datang terus, akhirnya kami pun seperti pemadam kebakaran, selalu kewalahan untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan,” ungkapnya.
Jika Malaysia komitmen dan konsisten, Samudi yakin aparat di Indonesia juga lebih ringan menekan peredaran narkotika. Malaysia, kata dia, harusnya peduli dengan banyaknya narkoba yang keluar dari negaranya.
Samudi juga menyebut pintu masuk dari negara lain ke Indonesia seperti Filipina juga perlu diawasi ketat. Pintu lain dari Malaysia juga bisa melalui Dumai, Riau maupun Batam yang pengungkapan sabu sangat tinggi.
“Artinya, Pemerintah Malaysia seperti sengaja membiarkan para bandar ini membawa masuk sabu ke Indonesia. Tapi, kalau masuk ke Malaysia, baru mereka tegas. Ini seperti mereka tutup mata. BNN Pusat sudah tidak kurang untuk mengingatkan bekerjasama,” tegasnya.
BNN menyayangkan komitmen Malaysia dalam pemberantasan narkoba. Faktanya, menurut Samudi, hampir setiap saat sabu yang diungkap selalu dari Malaysia. Hal ini membuktikan otoritas negeri jiran tidak serius dalam hal menangani narkoba. Bahkan, saat Malaysia melakukan lockdown akibat pandemi Covid-19, masih ada pengungkapan kasus sabu dari Malaysia.
“Nyatanya, ada kami tangkap sampai 20 kilogram sabu yang masuk dari Malaysia. Itu baru yang berhasil kami ungkap, belum lagi yang berhasil lolos. Seharusnya, pencegahan dari Malaysia,” sebutnya.
Dengan demografi perairan di Kaltara, ditambah minimnya sarana dan prasarana, Samudi mengakui turut menjadi kendala BNNP Kaltara. Perairan yang luas dimanfaatkan para pelaku menggunakan speedboat yang sudah dimodifikasi. Mesin yang digunakan, dibuat tambahan kecepatan yang membuat petugas tidak bisa mengejar.
Hingga saat ini, pihaknya belum memiliki speedboat atau kapal lain yang bisa digunakan dalam pengembangan dan penyelidikan di wilayah perairan. Sehingga, dalam hal pengungkapan, BNNP Kaltara selalu menggandeng Bea Cukai Tarakan untuk bisa membantu dan kerja sama sarana dan prasarana.
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di korankaltara.com hari Senin 14 Juni 2021 dengan judul Malaysia Dianggap Tidak Komitmen Berantas Narkoba