“Tetapi pada prinsipnya, stroke adalah penyakit yang disebabkan terganggunya aliran darah yang tersumbat atau pecah di otak namun tidak segera ditangani. Penanganan stroke adalah waktu jadi perlu edukasi ke masyarakat untuk segera datang ke IGD RSUD, supaya bisa ditangani dengan cepat sehingga kerusakan sel tidak semakin banyak,” jelas Febrianto.
Hasil riset Kementerian Kesehatan pada 2018 lalu, Kalimantan Utara berada di urutan ke-5 kasus kejadian stroke tertinggi. Nomor 1 adalah Kalimantan Timur, disusul Yogyakarta dan Sulawesi Utara sementara posisi 4 Kepulauan Riau. Dokter lulusan Universitas Hasanuddin ini menambahkan, banyak yang membedakan antara stroke ringan dan stroke berat.
Hal ini karena sel yang mati jumlahnya sedikit pada stroke ringan. Sedangkan stroke berat, sel yang mati sudah sangat banyak. “Kalau di RSUD Tarakan, kami sudah memiliki standarisasi penanganan stroke yang akut, yang tiba-tiba dan sangat tiba-tiba. Pasien dibawa ke rumah sakit minimal 4,5 jam, masih bisa ditangani dengan baik. Rata-rata 80-90 persen pasien kembali normal.
Tidak pakai kursi roda, tidak harus dipapah dan lain sebagainya. Semua bisa sembuh, asalkan jangan terlambat membawa ke rumah sakit. Dimana, standar international paling lambat 4,5 jam sejak gejala timbul sudah dapat penanganan medis,” paparnya. Untuk peralatan, RSUD Tarakan memiliki CT Scan kepala yang sangat canggih.
Selain itu, ada juga alat yang bisa mendiagnosa jenis penyumbatan atau pendarahan. Kemudian, ada obat-obatan yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Masyarakat tidak perlu ragu datang ke rumah sakit bila ada gejala stroke. Stroke memiliki faktor resiko. Pertama, resiko yang dapat dimodifikasi dengan artian bisa diubah supaya tidak terkena serangan stroke.
Kedua, resiko yang tidak dapat dimodifikasi atau tidak bisa direkayasa. Untuk faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti umur. Berdasarkan penelitian, usia di atas 65 tahun meningkatkan faktor resiko dua kali lipat untuk terserang stroke.
“Tetapi jangan salah, banyak anak muda usia di bawah 40 tahun juga banyak yang kena serangan stroke. Yang kedua, adalah jenis kelamin. Laki dan perempuan sudah diciptakan dengan karakteristiknya masing-masing. Namun perempuan, faktor resiko lebih tinggi.
Ini hubungannya dengan kehamilan dan diabetes, pemakaian pil KB yang menyebabkan hormon wanita ada yang kelebihan. Selain itu, orang susah hamil juga ada menggunakan hormon tertentu sehingga memicu stroke,” paparnya.
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di korankaltara.com hari Jumat 12 Juni 2021 dengan judul Kaltara Urutan Kelima Penderita Stroke di Indonesia