“Karya yang dibuat para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini memang lebih efisien dibandingkan proses skrining saat ini yang menggunakan minimal swab antigen,” kata Franky.
Untuk Genose ini bisa mendeteksi Covid-19 dari hembusan napas dalam kurun waktu 80 detik. Sementara, swab antigen perlu waktu sekitar 15 menit untuk mengetahui hasilnya, ditambah lagi ada waktu untuk proses administrasi.
Tidak hanya efisien, Genose dinilai biayanya lebih murah dibandingkan swab antigen. Diungkapkan Franky, penggunaan Genose untuk angkutan kereta api di Pulau Jawa bahkan hanya dikenakan biaya harga Rp20 ribu.
“Tentu dari segi harga, jauh lebih murah dibandingkan swab antigen. Sedangkan untuk harga swab antigen bervariasi, dari harga sekitar Rp100 ribu hingga harga Rp200 ribu ke atas,” kata Franky lagi.
Dengan harga lebih murah ini, membuat Genose menjadi salah satu pilihan dalam melakukan skrining. “Kalau digunakan di Kaltara, sangat bagus untuk diterapkan di tempat skrining. Seperti di pelabuhan dan bandara yang ada di Kaltara, tinggal bagaimana pihak pemerintah daerah (pemda) mengadakan alatnya,” bebernya.
Terlebih lagi dengan tingkat efektiitasnya bisa mencapai lebih dari 70 persen, Franky menilai Pemda dapat menggunakan Genose. Meski, diakuinya, selain Genose ada juga alat yang dapat mendeteksi Covid-19 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Dalam hal penerapannya pada saat skrining, alat dari ITS cukup sulit. Karena harus banyak bergerak dulu, agar keringat yang digunakan untuk mendeteksi Covid-19 bisa keluar.
“Kurang efektif jika digunakan untuk skrining, untuk alat yang bisa mendeteksi Covid-19 lewat bau keringat ketiak. Tapi, kita apresiasi juga pengembangan alat itu dari teman-teman ITS,” tutup Franky.
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di korankaltara.com hari Senin 15 Februari 2021 dengan judul IDI Kaltara Dorong Satgas Covid-19 Gunakan Genose