Kasubbid Kedaruratan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan, Hasan mengaku pihaknya sudah melakukan rapat bersama OPD terkait dalam membahas status banjir yang ada di Kecamatan Sembakung.
“Sudah mengarah ke status tanggap darurat. Kami sudah menyampaikan rekomendasi ke bupati untuk penetapan status banjir tanggap darurat,” kata Hasan. Jika sudah ada penetapan status pihaknya dengan mudah bergerak hingga menyalurkan bantuan.
“Jadi, kalau ada yang menyatakan pemerintah tidak ada disana, saya harus klarifikasi dulu. Kecamatan di sana kan bagian dari perpanjangan tangan pemerintah,” tegasnya. Sejauh ini bantuan sudah banyak yang tersalur, baik dari pihak swasta maupun pemerintah provinsi hingga kabupaten.
“Kalau sudah ada penetapan status, secara otomatis sudah ada posko dibangun. Sekarang ini hanya tempat koordinasi saja di kecamatan,” kata Hasan lagi. Jika melihat kondisi banjir saat ini, wilayah Sembakung sudah sangat layak masuk kategori tanggap darurat seperti banjir terbesar yang pernah terjadi di tahun 2014 lalu, dengan ketinggian sampai 6 meter lebih, statusnya sudah tanggap darurat.
“Kemudian, di tahun 2017 juga tanggap darurat. Tahun ini juga harus,” tandasnya. Kecamatan Sembakung memang terbilang unik. Sebab, meski pun tak hujan, wilayah tetap akan banjir jika terjadi hujan deras di hulu sungai yang berada di teritorial Malaysia.
“Karena banjir yang terjadi saat ini adalah banjir kiriman. Memang posisi Sembakung ini lokasi seperti penampung. Apalagi jika berkenaan dengan air laut pasang. Itu lah mengapa kemarin itu tertinggi sampai 4 – 6 meter,” ungkapnya. Wilayah yang terparah itu berada di Tembuluk, masuk di Desa Atap. Sebab, desa ini juga bagian hulu, sehingga paling pertama disinggahi luapan air.
“Tapi, hingga saat ini belum ada masyarakat yang mengungsi. Mereka sebenarnya sudah terpola adaptasi dengan banjir ini. Kita tahu wilayah Sembakung ini hampir setiap tahun sekali, bahkan tiga kali banjir. Jadi, teknik mereka membuat semacam panggung kayu dalam rumah yang lebih tinggi,” papar Hasan.
Hanya saja hal itu tetap saja mengganggu aktivitas masyarakat. Contoh, jika ingin mandi, buang air kecil, hingga mendapatkan sumber air bersih. “Tapi dampaknya, kesehatan terganggu. Mulai muncul diare, gatal-gatal,” tutup Hasan. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di korankaltara.com hari Selasa 19 Januari 2021 dengan judul Banjir Sembakung Akan Ditetapkan Status Tanggap Darurat