Serangkaian foto yang belum pernah dilihat sebelumnya, yang diambil oleh Paul McCartney selama tahun-tahun awal The Beatles tersebut akan dipamerkan kepada publik dalam sebuah pameran pembukaan pada tanggal 28 Agustus 2025 pekan depan di London.
Pameran bertajuk Rearview Mirror: Liverpool-London-Paris ini menyatukan 18 gambar yang diambil oleh McCartney antara akhir tahun 1963 dan awal tahun 1964, tepat sebelum band tersebut menjadi terkenal secara global.
Galeri Gagosian di London akan menjadi tuan rumah pameran yang menawarkan pandangan intim The Beatles selama periode penting dalam karier mereka tersebut.
Foto-foto tersebut, baik hitam putih maupun berwarna, mendokumentasikan momen-momen keseharian dan pribadi para personel grup ketika mereka masih menikmati kebebasan di luar Inggris.
Diantara foto-foto yang dipilih adalah potret diri McCartney, adegan perjalanan, momen sebelum konser dan kegiatan public serta fragmen kehidupan sehari-hari grup dan lingkaran terdekat mereka.
Nilai materi ini terletak pada kemampuannya menangkap esensi The Beatles sebelum terekspos media dan melonjaknya ketenaran global.
Joshua Chuang, direktur fotografi di Galeri Gagosian berkomentar di The Guardian tentang pentingnya momen ini. "Momen ketika Paul paling produktif dengan kameranya menyerupai momen ketika mereka benar-benar punya waktu. Ketika mereka tidak begitu terbebani oleh eksposur dan permintaan yang berlebihan," ujar Chuang melansir dari theguardian.com Selasa (19/8/2025).
Chuang juga mencatat bulan-bulan tersebut sangat penting bagi anggota kelompok untuk menemukan identitas mereka dan memutuskan bagaimana menampilkan diri kepada dunia, menjadi pemain kunci sesuai citra mereka sendiri.
Gambar-gambar ini bertepatan dengan kebangkitan pesat The Beatles. Pada tahun 1963, band ini merilis dua album pertama mereka, "Please Please Me" dan "With the Beatles ", yang membawa mereka ke puncak ketenaran di Britania Raya berkat suara unik dan identitas mereka yang terdefinisi dengan baik.
Tahun berikutnya, grup ini mengukuhkan kesuksesan internasional mereka dengan singel seperti "A Hard Day's Night" dan dua album baru, membuka pintu ke pasar Amerika dan memperkuat posisi mereka sebagai fenomena budaya global.
Untuk mengabadikan momen-momen ini, McCartney membeli kamera Pentax sederhana pada musim gugur 1963, jauh sebelum ia dan rekan-rekan bandnya menjadi tokoh yang paling banyak difoto di dunia. McCartney menggunakan film hitam putih dari Kodak dan Ilford , meskipun ia juga menyertakan beberapa foto berwarna pada awal 1964.
Menurut Chuang, The Beatles memahami mereka sedang menjalani suatu babak sejarah dan memilih untuk mendokumentasikannya dari sudut pandang mereka sendiri, menggunakan kamera sebagai alat untuk menangkap visi mereka.
Adegan yang diambil McCartney mencakup lokasi ikonik dan situasi yang beragam : dari Bandara London, tempat grup tersebut bersiap terbang ke New York bersama Brian Epstein, Mal Evans, dan Neil Aspinall, hingga jalan-jalan di sepanjang Champs-Élysées di Paris, tempat John Lennon masih bisa berjalan tanpa dikenali oleh kerumunan.
Juga disertakan gambar-gambar dari Liverpool dan rumah keluarga Asher di Wimpole Street, London, tempat McCartney menulis melodi untuk "Yesterday" dan mengambil swafoto introspektif.
Beberapa materi ini sebenarnya sudah dipamerkan pada tahun 2023 dengan judul “Paul McCartney Photographs 1963-64: Eyes of the Storm”, sebuah pameran yang diselenggarakan setelah ditemukannya kembali gambar-gambar tersebut selama pandemi.
Pada kesempatan baru ini, publik akan dapat melihat pilihan kurasi dokumen visual ini, yang menawarkan jendela unik ke dalam momen-momen menjelang ledakan Beatlemania.
Untuk pertama kalinya pula, foto-foto yang dipamerkan akan dijual di Galeri Gagosian di London. Koleksi ini mencakup karya-karya unik yang ditandatangani oleh McCartney, dicetak dari negatif asli yang telah hilang selama lebih dari lima puluh tahun. Setiap gambar ditawarkan dalam edisi terbatas sebanyak enam hingga sepuluh eksemplar, dengan harga berkisar antara $20.000, setara dengan Rp350 Juta hingga $85.000, setara dengan Rp1,4 Miliar.
Editor: Aspian Nur