Selasa, 30/12/2025

Mengapa Setelah Terserang Stroke Seseorang Sulit Mendengar dan Memahami Kata-Kata?

Selasa, 30/12/2025

(ilustrasi)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Mengapa Setelah Terserang Stroke Seseorang Sulit Mendengar dan Memahami Kata-Kata?

Selasa, 30/12/2025

logo

(ilustrasi)

KORANKALTIM.COM - Stroke merupakan satu dari beberapa penyebab utama kecacatan dan kematian di seluruh dunia. Menurut World Stroke Organization (WSO) atau Organisasi Stroke Dunia, sekitar 12 juta kasus baru tercatat setiap tahunnya 

Lebih dari 60 persen dari kasus-kasus ini menyerang orang-orang dibawah usia 70 tahun dan dampak global penyakit ini yang semakin meningkat menimbulkan tantangan signifikan bagi sistem kesehatan dan kualitas hidup mereka yang selamat.

Bagaimana otak kita mengubah cara memproses bahasa setelah stroke? Sebuah studi internasional yang diterbitkan oleh Society for Neuroscience baru saja mengungkapkan, orang yang menderita afasia atau gangguan bahasa umum setelah stroke, memproses dan menyimpan bunyi ucapan secara berbeda dibandingkan dengan orang dewasa lanjut usia yang sehat.

Temuan ini, yang dipublikasikan di Journal of Neuroscience, tidak hanya memberikan petunjuk tentang bagaimana memahami ucapan, tetapi juga menyarankan strategi baru untuk diagnosis dan rehabilitasi pada orang dewasa lanjut usia.

Penelitian yang dipimpin oleh Laura Gwilliams dari Universitas Stanford dan Maaike Vandermosten dari KU Leuven, dengan Jill Kries sebagai penulis pertama, dilakukan di Amerika Serikat dan Belgia. Tim tersebut mempelajari 39 orang dengan afasia pasca-stroke dan 24 orang dewasa lanjut usia yang sehat dengan usia yang serupa.

Selama 25 menit, peserta mendengarkan sebuah cerita sementara aktivitas otak mereka direkam menggunakan elektroensefalografi (EEG), sebuah teknik non-invasif yang memungkinkan pengamatan secara real-time tentang bagaimana otak memproses suara ucapan dalam lingkungan alami.

Society for Neuroscience melaporkan, meskipun pasien afasia mendengar suara sama seperti kelompok sehat, pemrosesan otak jauh lebih lemah.

Kedua kelompok menunjukkan respons awal yang serupa terhadap setiap fonem, tetapi pengkodean fitur fonetik jauh kurang kuat pada mereka yang menderita stroke, terutama antara 80 dan 250 milidetik setelah permulaan suara. Perbedaan ini paling jelas terlihat di korteks serebral kiri, wilayah kunci untuk bahasa.

Studi tersebut menunjukkan masalahnya bukan terletak pada kemampuan pendengaran tetapi pada integrasi bunyi ucapan untuk memberikan makna. Hilangnya daya pemrosesan di otak mengurangi kapasitas untuk menyimpan informasi fonetik yang cukup sehingga sulit untuk mengidentifikasi kata-kata secara akurat. Ini adalah salah satu tantangan utama dalam rehabilitasi bahasa bagi mereka yang hidup dengan afasia.

Untuk lebih memahami hal ini, bayangkan kita mendengar kata yang ambigu dalam percakapan yang ramai. Orang yang sehat menyimpan informasi fonetik lebih lama, memungkinkan mereka untuk menguraikan kata tersebut meskipun mereka tidak mendengarnya secara lengkap. 

Sebaliknya, seseorang dengan afasia kehilangan informasi ini lebih cepat, sehingga jauh lebih sulit bagi mereka untuk memahami istilah yang kompleks atau ambigu.

Diantara temuan utama, Society for Neuroscience menyoroti orang dewasa sehat mempertahankan pengkodean fonetik untuk periode yang lebih lama dalam situasi ketidakpastian linguistik, sedangkan pada penderita afasia, pemrosesan ini lebih singkat dan kurang efektif. Hal ini memperburuk kesulitan dalam memahami kata-kata yang sulit atau ambigu.

Pola-pola ini menawarkan kemungkinan baru untuk meningkatkan penilaian bahasa pada lansia dan pasien pasca-stroke. Memahami bagaimana otak mempertahankan atau kehilangan informasi fonetik membantu menjelaskan tantangan yang dihadapi oleh mereka yang hidup dengan afasia dan menyarankan strategi baru untuk diagnosis yang lebih akurat dan rehabilitasi yang efektif .

Penggunaan EEG saat mendengarkan cerita menunjukkan potensi metode yang lebih alami dan sensitif untuk mendeteksi perubahan halus dalam pemrosesan ucapan otak. 

Para peneliti menyoroti belahan otak kiri memperkuat perannya sebagai area kunci dalam mempertahankan informasi fonetik, memperkuat hubungan antara wilayah otak tertentu dan kemampuan linguistik.

Kedepan, para ahli percaya pemantauan mekanisme ini, terutama dalam konteks dimana makna kata-kata tidak pasti, dapat merevolusi protokol penilaian, menggantikan tes yang panjang dan artifisial dengan aktivitas yang lebih sehari-hari, seperti mendengarkan cerita.

Terinspirasi oleh hasil ini Jill Kries menyatakan mengeksplorasi cara-cara yang lebih sederhana untuk mendeteksi dan menangani kesulitan pemrosesan Bahasa, seperti mendengarkan cerita, merupakan jalan yang menjanjikan menuju penilaian diagnostik yang lebih mudah diakses dan efisien bagi mereka yang menghadapi gangguan pemahaman bahasa.


Editor: Aspian Nur

Mengapa Setelah Terserang Stroke Seseorang Sulit Mendengar dan Memahami Kata-Kata?

Selasa, 30/12/2025

(ilustrasi)

Share

Berita Terkait