Kamis, 20/11/2025
Kamis, 20/11/2025
Sampul buku yang terindikasi menggunkan teknologi AI dalam pembuatannya, membuat dua penulis terdiskualifikasi dari lomba. (gettyimages)
Kamis, 20/11/2025

Sampul buku yang terindikasi menggunkan teknologi AI dalam pembuatannya, membuat dua penulis terdiskualifikasi dari lomba. (gettyimages)
KORANKALTIM.COM - Perdebatan seputar penggunaan Artificial Intelligent (AI) atau kecerdasan buatan dalam industri penerbitan buku telah mencapai titik balik baru di negara Selandia Baru.
Dua penulis yaitu Elizabeth Smither dan Stephanie Johnson dikeluarkan dari Ockham New Zealand Book Awards 2026 karena adanya elemen yang dihasilkan AI pada sampul buku mereka.
Keputusan ini, yang memengaruhi dua tokoh terkemuka dalam sastra Selandia Baru, menyusul penerapan peraturan pertama yang melarang karya dengan sampul yang dirancang menggunakan kecerdasan buatan.
Quentin Wilson Publishing mengonfirmasi kepada kantor berita EFE Kamis (20/11/205) hari ini kalau bukun berjulud Angel Train karya Smither dan Obligate Carnivore karya Johnson didiskualifikasi dari kompetisi setelah seorang penjual buku mendeteksi bukti AI dalam ilustrasi dan memberi tahu penyelenggara terkait hal itu.
Pihak penerbit mengakui penggunaan perangkat teknologi dalam proses desain kedua sampul yang menyebabkan diskualifikasi langsung kedua judul tersebut.
Ketua dewan pengawas penghargaan Nicola Legat , menekankan keseriusan keputusan tersebut. "Yayasan tidak akan menganggap enteng keputusan yang menghalangi karya terbaru dua penulis paling terkemuka di Selandia Baru untuk dipertimbangkan dalam penghargaan tahun 2026," ujar Legat.
Peraturan tentang kecerdasan buatan mencerminkan keinginan untuk melindungi kepentingan kreatif dan hak cipta para penulis dan ilustrator di negara tersebut.
Penghargaan ini yang dianggap paling bergengsi di kancah sastra Selandia Baru dan berhadiah 65.000 dolar Selandia Baru (31.700 euro), hampir mencapai satu miliar rupiah, menerapkan aturan baru tahun ini yaitu buku yang menampilkan elemen hasil rekayasa AI pada sampulnya tidak termasuk. Namun penerbit berargumen penerbitan aturan pada bulan Agustus terlambat bagi penerbit mana pun untuk menyesuaikan pesanan mereka dan menyatakan perubahan sebesar ini biasanya diumumkan setidaknya setahun sebelumnya.
Dalam sebuah pernyataan, Elizabeth Smither mengungkapkan penyesalannya atas dampak keputusan tersebut terhadap para desainer yang terlibat dalam sampul. "Merekalah yang paling saya khawatirkan, karya teliti mereka tidak dihargai," katanya.
Sementara itu, Stephanie Johnson mengatakan kepada The Guardian ia sedih atas pengecualian tersebut, meskipun ia mengakui memiliki kekhawatiran yang sama dengan organisasi tersebut terkait penggunaan kecerdasan buatan. “Alih-alih membicarakan buku saya dan apa inspirasinya, kita malah membicarakan AI sialan itu, yang saya benci," keluh Johnson.
Editor Quentin Wilson Publishing yakin insiden ini menyoroti "kebutuhan mendesak" untuk mengatur penggunaan kecerdasan buatan dalam industri penerbitan, dengan menekankan bahwa perangkat seperti Photoshop dan pemeriksa ejaan Grammarly merupakan bagian standar dari pekerjaan sehari-hari. Pihak penerbit membela kinerja tim produksi dan desain, dengan menekankan bahwa AI terintegrasi ke dalam proses kreatif sebagai perpanjangan alami dari seni, tanpa menggantikan kreativitas manusia. "Kami sangat sedih bahwa dua karya fiksi dari penulis yang begitu dihormati terjerat dalam masalah yang tidak ada hubungannya dengan tulisan mereka ," ujar pihak penerbit.
Baik Smither maupun Johnson memiliki karier yang cemerlang dalam sastra Selandia Baru. Elizabeth Smither, seorang penulis puisi, cerita pendek dan novel adalah anggota Akademi Sastra Selandia Baru, menjabat sebagai Penyair Laureate dari tahun 2001 hingga 2003 dan telah menerima penghargaan seperti Penghargaan Prestasi Seumur Hidup Perdana Menteri untuk Puisi pada tahun 2008, Penghargaan Buku Puisi Selandia Baru pada tahun 1990 dan Penghargaan Puisi Selandia Baru Montana pada tahun 2000.
Sementara Stephanie Johnson juga anggota Akademi, telah berkarya dalam berbagai genre termasuk fiksi, puisi, cerita pendek, drama, televisi dan radio. Ia dianugerahi Penghargaan Sastra Perdana Menteri pada tahun 2022 dan pada tahun 2019 diangkat sebagai Anggota Ordo Merit Selandia Baru atas kontribusinya pada sastra.
Editor: Aspian Nur
Kamis, 20/11/2025
Sampul buku yang terindikasi menggunkan teknologi AI dalam pembuatannya, membuat dua penulis terdiskualifikasi dari lomba. (gettyimages)
TERPOPULER