Kamis, 06/11/2025

Lewat Project Suncathcer, Google Siap Bangun Pusat Data di Luar Angkasa

Kamis, 06/11/2025

Google membuat langkah baru, menunjukkan kepemimpinannya dalam persaingan dominasi AI. (reuters)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Lewat Project Suncathcer, Google Siap Bangun Pusat Data di Luar Angkasa

Kamis, 06/11/2025

logo

Google membuat langkah baru, menunjukkan kepemimpinannya dalam persaingan dominasi AI. (reuters)

KORANKALTIM.COM - "Prosesor kami akan pergi ke luar angkasa!" itulah kalimat yang diposting dijejaring sosial X oleh Sundar Pichai, CEO Alphabet.

Secara resmi Pichai mengumumkan Project Suncatcher, inisiatif Google untuk membangun jaringan satelit yang dilengkapi dengan prosesor kecerdasan buatan yang ditenagai oleh energi matahari yang mana keseluruhan sistem berfungsi sebagai pusat data di luar angkasa.

Tujuannya adalah untuk menemukan solusi radikal terhadap krisis energi yang terkait dengan percepatan pertumbuhan teknologi ini.

Proyek Suncatcher, yang telah dikembangkan selama lebih dari setahun, berupaya menciptakan sistem komputasi pembelajaran mesin yang dapat diskalakan di luar atmosfer Bumi.

Pichai menjelaskan perusahaannya sedang menjajaki bagaimana suatu hari nanti dapat membangun sistem komputasi pembelajaran mesin yang skalabel di luar angkasa, memanfaatkan porsi energi matahari yang lebih besar (yang memancarkan lebih dari 100 miliar kali lipat total keluaran listrik manusia).

Visinya adalah untuk menempatkan prosesor dekat dengan Matahari sehingga satelit dapat menangkap sumber energi yang hampir tidak ada habisnya, yang memungkinkan penyediaan tenaga bagi generasi kecerdasan buatan berikutnya tanpa keterbatasan infrastruktur dan emisi saat ini.

Melansir dari theguardians Kamis (6/11/2025) hari ini, inisiatif ini menanggapi meningkatnya tekanan pada sistem energi global akibat perkembangan kecerdasan buatan. Sejak peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada tahun 2022, permintaan daya pemrosesan dan energi telah meningkat di pusat data di seluruh dunia.

Sam Altman , CEO OpenAI, memperingatkan di Forum Davos 2024 kalau kecerdasan buatan siap memicu krisis energi global. "Tidak ada jalan keluar tanpa perubahan drastic," ujarnya saat itu.

Sementara perusahaan teknologi besar mengeksplorasi opsi seperti fusi nuklir atau perbaikan pembangkit listrik tenaga nuklir, Google memilih energi surya berbasis luar angkasa untuk mendorong pertumbuhan kecerdasan buatan.

Dari sudut pandang teknis, Google berencana meluncurkan Tensor Processing Unit (TPU) pada satelit yang dilengkapi panel surya yang mampu menghasilkan listrik hampir terus-menerus.

Data perusahaan menunjukkan panel-panel ini bisa mencapai delapan kali lebih produktif daripada panel-panel yang terpasang dipermukaan bumi, sehingga menawarkan komputasi berkinerja tinggi tanpa dampak lingkungan yang terkait dengan pusat data tradisional. Lebih lanjut, skalabilitas sistem akan memungkinkan peningkatan kapasitas pemrosesan seiring dengan meningkatnya kebutuhan kecerdasan buatan.

Pengembangan pusat data luar angkasa menghadirkan tantangan yang cukup besar dengan satu tantangan utamanya adalah manajemen termal prosesor, karena kondisi ekstrem di luar angkasa dapat memengaruhi kinerja chip.

Google telah menguji TPU-nya dalam akselerator partikel untuk mensimulasikan tingkat radiasi orbit Bumi rendah, dengan hasil positif: prosesor telah menahan dosis yang setara dengan lima tahun misi tanpa kegagalan permanen. Tantangan utama lainnya adalah komunikasi antarsatelit, karena bersaing dengan pusat data terestrial membutuhkan tautan yang mampu menangani puluhan terabit per detik.

Hal ini akan membutuhkan konstelasi satelit yang diposisikan hanya beberapa kilometer terpisah, jauh lebih dekat dari biasanya sehingga meningkatkan resiko tabrakan dan menghasilkan puing-puing antariksa. 

Biaya peluncuran dan pengoperasian sistem ini tetap tinggi, meskipun perusahaan memperkirakan bahwa pada tahun 2030-an, biayanya dapat menyamai biaya pusat data terestrial dalam hal biaya energi per kilowatt per tahun.

Untuk memajukan kelangsungan proyek, Google telah menandatangani perjanjian dengan Planet , sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam mikrosatelit, dengan tujuan meluncurkan prototipe pertama pada awal tahun 2027.

Uji coba ini akan krusial dalam mengevaluasi kinerja teknologi di orbit dan memutuskan apakah akan melanjutkan pembangunan infrastruktur komputasi ruang angkasa berskala besar. Jika hasilnya memuaskan, Google memperkirakan sistem ini akan layak secara ekonomi pada pertengahan dekade mendatang.

Saat industri teknologi mengeksplorasi alternatif untuk mendukung kemajuan kecerdasan buatan, taruhan Google pada pusat data di luar angkasa mengantisipasi skenario di mana komputasi dapat berkembang melampaui atmosfer Bumi, didukung oleh energi matahari dan batas-batas teknologi baru .


Editor: Aspian Nur

Lewat Project Suncathcer, Google Siap Bangun Pusat Data di Luar Angkasa

Kamis, 06/11/2025

Google membuat langkah baru, menunjukkan kepemimpinannya dalam persaingan dominasi AI. (reuters)

Share

Berita Terkait