Jumat, 24/10/2025

Misteri Hilangnya Sampah Plastik di Laut dan Baru Terurai Setelah 100 Tahun

Jumat, 24/10/2025

Sampah di laut yang sebagian besar adalah plastik, tak terlihat mengambang namun hanya bisa hilang setelah ratusan tahun dan bertransformasinya menjadi mikroplastik (infobae)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Misteri Hilangnya Sampah Plastik di Laut dan Baru Terurai Setelah 100 Tahun

Jumat, 24/10/2025

logo

Sampah di laut yang sebagian besar adalah plastik, tak terlihat mengambang namun hanya bisa hilang setelah ratusan tahun dan bertransformasinya menjadi mikroplastik (infobae)

KORANKALTIM.COM - Setiap tahun, ribuan ton plastik berakhir di lautan namun permukaan air laut bahkan tidak menunjukkan memperlihatkannya dengan kasat mata, hala mana yang jadi kontradiksi dan membuat para ilmuwan membicarakan misteri hilangnya plastik di lautan.

Teka-teki itu menarik perhatian dunia, memunculkan pertanyaan, di manakah sebenarnya semua sampah plastic itu?

Sebuah tim ilmuwan dari Inggris mendapat jawaban atas pertanyaan ini jauh lebih rumit daripada yang dipikirkan kebanyakan orang.

Selama bertahun-tahun para ilmuwan diseluruh dunia telah memperhatikan kesenjangan yang sangat besar antara jumlah plastik yang dibuang ke laut dan yang mengapung di laut.

Apakah sampah-sampah itu bersembunyi, tenggelam atau hancur? Sebagian besar sampah ini tidak pernah terlihat lagi, itulah sebabnya frasa "plastik hilang" menjadi populer di dunia.

Kelompok penelitian Inggris, yang terdiri dari spesialis kimia laut dan pemodelan lingkungan, memutuskan untuk mulai mencari jawabannya.

Menurut para peneliti, yang menerbitkan sebuah studi dalam jurnal Philosophical Transactions A , plastik berukuran besar mengapung di laut begitu lama sehingga butuh waktu lebih dari seratus tahun untuk benar-benar hilang dari permukaan.

Proses ini tidak begitu mudah. Selama puluhan tahun, plastik secara bertahap terurai menjadi pecahan-pecahan kecil yang hampir tak terlihat.

Penelitian ini dipimpin oleh Dr Nan Wu dari Queen Mary University of London, bersama dengan rekan-rekan dari HR Wallingford, British Antarctic Survey dan University of Plymouth.

Mereka memperhitungkan kampanye pembersihan di wilayah pesisir hanya mengatasi sebagian kecil dari masalah yang terlihat, sementara ancaman diam-diam tetap ada.

Para peneliti mengembangkan model komputer untuk menyelidiki nasib plastik di lautan. Mereka mengumpulkan data tentang bagaimana plastik berukuran besar mengapung, terurai oleh sinar matahari dan gelombang, lalu berubah menjadi fragmen yang lebih kecil.

Mereka memasukkan dalam simulasi mereka yaitu efek salju laut, bukan plastic melainkan campuran sisa-sisa hewan dan tumbuhan mikroskopis beserta mineral. "Salju" ini lengket dan menjebak mikroplastik, mendorongnya perlahan tenggelam ke dasar laut. Tim tersebut mereproduksi ribuan lintasan dari saat plastik mencapai laut hingga terbentuknya partikel-partikel kecil. Mereka juga menganalisis bagaimana sistem akan berubah jika plastik berhenti memasuki lautan suatu hari nanti.

Secara keseluruhan, model ini memungkinkan mereka melihat apa yang terjadi pada lingkungan laut, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dan menemukan fakta mengejutkan.

Botol plastik dan benda-benda yang terlihat mengambang menurut data peneliti dapat memakan waktu antara sepuluh hingga seratus tahun untuk hancur dan tidak lagi terlihat di permukaan.

Mikroplastik, yang merupakan sisa-sisa kecil kemasan dan kantong, dapat tetap tersuspensi dalam air selama bertahun-tahun sebelum bergabung dengan salju laut dan tenggelam.

Keausan plastik yang disebabkan oleh matahari, air dan mikroba hanya menguraikannya secara bertahap, tetapi tidak serta merta menghilangkannya dari lautan.

Jika mikroplastik terus meningkat, mereka dapat mengganggu proses alami utama seperti pengangkutan nutrisi dan karbon dalam ekosistem laut.

Para ilmuwan mengklarifikasi kalau kesimpulan mereka dapat berubah dan ditingkatkan dengan teknologi yang lebih baik dan lebih banyak data tentang mikroplastik.

Menghadapi hasil ini, para peneliti mendesak semua orang untuk melihat lebih jauh dari sekadar pembersihan yang dangkal.

 “Polusi mikroplastik adalah masalah antargenerasi dan cucu-cucu kita akan tetap berusaha membersihkan lautan bahkan jika kita berhenti mencemari dengan plastic,” Kate Spencer, peneliti asal Inggris, melansir dari laman infobae Jumat (24/10/2025) hari ini.

Sementara Profesor Andrew Manning mengklarifikasi penelitian tersebut membantu menjelaskan mengapa begitu banyak plastik diperkirakan ditemukan dipermukaan laut tetapi tidak terlihat. “Ketika plastik besar terfragmentasi, ukurannya menjadi cukup kecil untuk menempel pada salju laut dan tenggelam,” ungkap Manning.

Namun proses itu membutuhkan waktu puluhan tahun. "Bahkan setelah seratus tahun, serpihan-serpihannya masih mengambang dan terus hancur. Untuk benar-benar mengatasi masalah ini, kita membutuhkan pandangan jangka panjang, bukan sekadar penghapusan permukaan," kata Manning.

Laporan yang dipublikasikan mengirimkan pesan yang jelas, plastik tidak hilang begitu saja. Plastik membutuhkan kebijakan yang kuat dan keputusan jangka panjang karena apa yang beredar saat ini dapat bertahan untuk beberapa generasi. Karena itulah para ilmuwan menyarankan dua tindakan yaitu mengurangi masuknya plastik ke lautan, terutama dengan menghentikan polusi pada sumbernya, kemudian perlu memikirkan solusi jangka panjang daripada hanya berfokus pada pembersihan permukaan laut.

Pada tahun 2022, negosiasi dimulai untuk mencapai " Perjanjian Global tentang Polusi Plastik" dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Instrumen ini dirancang untuk membahas seluruh siklus hidup plastik, termasuk desain, produksi dan pembuangannya, serta menetapkan peraturan yang mengikat secara hukum di setiap negara. Sayangnya, negosiasi saat ini masih terhenti.


Editor: Aspian Nur

Misteri Hilangnya Sampah Plastik di Laut dan Baru Terurai Setelah 100 Tahun

Jumat, 24/10/2025

Sampah di laut yang sebagian besar adalah plastik, tak terlihat mengambang namun hanya bisa hilang setelah ratusan tahun dan bertransformasinya menjadi mikroplastik (infobae)

Share

Berita Terkait