Kamis, 02/07/2026
Kamis, 02/07/2026
(dokaprobi)
Kamis, 02/07/2026

(dokaprobi)
KORANKALTIM.COM - Organisasi Angkutan Darat (Organda) segera melakukan penyesuaian penerapan biodiesel B50 pada armada angkutan umum yang mereka naungi sekaligus mendorong pemerintah memastikan ketersediaan solar agar operasional transportasi nasional tetap berjalan lancar.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organda Adrianto Djokosoetono mengatakan, penerapan B50 bukan lagi persoalan siap atau tidak siap, melainkan bagaimana pelaku usaha mampu beradaptasi melalui berbagai penyesuaian operasional.
"Kalau berbicara masalah B50, bukan masalah siap dan tidak siap tapi harus menyesuaikan. Dengan berbagai macam teknik operasional Indonesia cukup pengalaman dari sejak zaman dulu," kata Adrianto melansir dari antaranews.com Kamis (2/7/2027) hari ini.
Armada angkutan yang saat ini beroperasi memang belum dirancang secara khusus untuk menggunakan bahan bakar biodiesel B50 sehingga diperlukan proses penyesuaian secara bertahap di lapangan. "Kendaraannya memang tidak disiapkan untuk B50 tapi kami akan menyesuaikan," sebut Adrianto.
Meski terus beradaptasi terhadap kebijakan energi nasional, Organda menegaskan fokus utama saat ini adalah memastikan pasokan solar tersedia secara merata di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) agar layanan angkutan kepada masyarakat tidak terganggu.
"Masalah B50 kami lebih fokus bagaimana solar itu ada dimana pun ada SPBU dan setiap saat. Itu lebih penting dibandingkan harga, lebih penting dibandingkan B50 atau yang lebih tinggi lagi nanti," tegasnya.
Kepastian distribusi solar menjadi faktor yang paling menentukan kelancaran operasional angkutan dibandingkan persoalan harga maupun peningkatan campuran biodiesel.
Organda secara konsisten menyampaikan kepada pemerintah dalam berbagai forum bahwa jaminan ketersediaan solar di seluruh daerah merupakan kebutuhan utama untuk menjaga kesinambungan layanan transportasi.
Kendala pasokan solar masih ditemukan di berbagai wilayah, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali hingga sejumlah daerah lainnya.
Karena itu Organda berharap implementasi B50 dapat berjalan beriringan dengan penguatan distribusi bahan bakar agar pelayanan transportasi kepada masyarakat tetap optimal.
Sekretaris Jenderal DPP Organda Kurnia Lesani Adnan mengatakan penerapan biodiesel B50 memang memerlukan sejumlah penyesuaian dari sisi teknis karena belum sepenuhnya sesuai dengan standar kendaraan Euro.
Kandungan fatty acid methyl ester (FAME) dalam biodiesel di berbagai negara umumnya berada di kisaran 12,5 persen, sedangkan Indonesia menerapkan campuran hingga 50 persen melalui program B50.
Penggunaan B50 berpotensi menimbulkan tantangan teknis pada kendaraan yang menggunakan teknologi exhaust gas recirculation (EGR) maupun AdBlue, termasuk penumpukan sludge dan penyumbatan sistem silencer kendaraan.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus melakukan penyesuaian pola operasional, termasuk memperpendek masa pakai filter solar sehingga biaya perawatan armada meningkat.
Organda telah menyampaikan berbagai masukan terkait tantangan teknis tersebut kepada pemerintah sejak penerapan B20, B30, B40 hingga pemberlakuan mandatori B50 yang dimulai pada 1 Juli.
“Meski menghadapi sejumlah penyesuaian teknis, kami tetap mendukung implementasi B50 sebagai bagian dari kebijakan energi nasional,” ujar Kurnia.
Editor: Aspian Nur
Kamis, 02/07/2026
(dokaprobi)
TERPOPULER