Sabtu, 06/06/2026
Sabtu, 06/06/2026
Cabai merah di Pasar Gerbang Raja Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong. (Foto: Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
Sabtu, 06/06/2026

Cabai merah di Pasar Gerbang Raja Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong. (Foto: Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Dinas Pertanian dan Peternakan Kutai Kartanegara ( Distanak Kukar) memberikan penjelasan terkait fenomena fluktuasi harga komoditas hortikultura, khususnya cabai rawit merah, yang kerap kali mengalami lonjakan di pasar tradisional wilayah Kukar.
Kepala Distanak Kukar Muhammad Taufik mengatakan, wilayah Kukar sebenarnya memiliki potensi produksi hortikultura yang sangat melimpah. Namun pergerakan harga cabai di pasaran masih menjadi salah satu komoditas utama pemicu inflasi bulanan daerah akibat dinamika distribusi dan cuaca.
Distanak Kukar mengidentifikasi tiga faktor utama yang memicu meroketnya harga cabai rawit merah di tingkat pedagang, pertama, saat pasokan dari petani lokal menipis, para agen terpaksa mendatangkan cabai dari luar daerah menggunakan jalur udara (pesawat) karena keterlambatan jalur laut, yang berimbas langsung pada lonjakan harga jual.
Kemudian, kondisi cuaca yang tidak menentu menghambat produktivitas tanaman di ladang, memicu serangan hama, hingga menyebabkan gagal panen di sejumlah sentra pertanian lokal.
Selain itu, pola konsumsi musiman pada hari besar keagamaan nasional kemarin juga selalu memicu ketidakseimbangan antara ketersediaan stok barang dan tingginya permintaan masyarakat.
Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Kukar telah mengatur strategi. Melalui Distanak, pemerintah daerah tengah menggencarkan gerakan tanam cepat dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) di 20 kecamatan guna memperkuat cadangan pangan mandiri.
"Pemerintah juga terus menyalurkan bantuan stimulan sepeti benih unggul, pupuk, dan kapur pertanian secara gratis kepada kelompok tani agar gairah produksi di tingkat hulu tetap terjaga," sebut Taufik Sabtu (6/6/2026).
Langkah ini juga disinergikan dengan pengawasan lapangan oleh Tim Satgas Pangan guna memonitor fluktuasi harga riil di pasar tradisional seperti Pasar Mangkurawang, sehingga tidak ada ruang bagi spekulasi harga sepihak yang dapat merugikan konsumen.
Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah bersyukur karena penurunan harga beberapa komoditas, termasuk ayam dan beberapa komoditas cabai, tentu menjadi angin segar bagi masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga.
"Kalau harganya turun warga pasti senang. Memang biasalah fluktuasi harga itu, setiap tahun ada siklus naik-turunnya," kata Sayid.
Ia menjelaskan lonjakan harga umumnya dipicu oleh tingginya permintaan menjelang hari besar beberapa waktu lalu. Setelah momen tersebut lewat, harga biasanya akan kembali normal dalam waktu seminggu. Namun, harga juga bisa sedikit goyang jika para pedagang atau pemasok dari luar daerah sedang libur, yang membuat pasokan agak tersendat.
Disperindag Kukar rutin menerjunkan petugas khusus untuk memantau pergerakan harga, terutama di Pasar Gerbang Raja Mangkurawang.
Pasar sendiri dikenal sebagai pusat urat nadi perekonomian masyarakat Tenggarong karena statusnya yang multifungsi, mulai dari pasar subuh, pasar induk, pasar murah, hingga pasar segar.
“Masyarakat Tenggarong sudah sangat familiar dengan Pasar Mangkurawang. Kalau mau belanja kebutuhan dalam jumlah banyak misalnya untuk warung, acara selamatan, nikahan, atau event besar Pasar Mangkurawang adalah tempat yang paling tepat,” jelas Sayid.
Pasokan bahan pangan langsung didatangkan dari kawasan hulu Mahakam serta sentra pertanian lokal seperti Rapak Lambur, Spontan, dan Maluhu. Bahkan, pasokan ikan segar pun langsung dikirim dari wilayah Kutai Hulu.
Berdasarkan pantauan di Pasar Gerbang Raja Mangkurawang, harga cabai keriting turun signifikan menjadi Rp75 Ribu per kilogram, sementara cabai tiung berada di angka Rp50 Ribu, bawang merah Rp55 Ribu, bawang putih Rp40 Ribu, dan tomat Rp25 Ribu per kilogram. Sebaliknya, pasokan yang terbatas menyebabkan harga cabai rawit merah melonjak hingga Rp250 Ribu per kilogram dan cabai rawit hijau tertahan di Rp120 Ribu per kilogram.
Editor: Aspian Nur
Sabtu, 06/06/2026
Cabai merah di Pasar Gerbang Raja Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong. (Foto: Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
TERPOPULER