Eco enzyme adalah cairan hasil fermentasi campuran antara sampah organik berupa sayuran atau buah-buahan dengan molase atau gula tebu.
Keistimewaan eco enzyme adalah tidak memerlukan lahan yang luas untuk proses fermentasi seperti pada proses pembuatan kompos. Pembuatan eco enzyme sangat hemat dalam hal tempat pengolahan dan dapat diterapkan di rumah.
Yulianti dari Komunitas Eco Enzyme Samarinda sebagai narasumber memaparkan dengan rinci dan jelas tentang pembuatan eco enzyme dan manfaatnya baik bagi lingkungan maupun kesehatan.
Proses fermentasi dalam pembuatan eco enzyme berlangsung selama 3 (tiga) bulan. Setelah itu cairan yang dihasilkan sudah bisa dimanfaatkan.
Ada 20 orang yang mewakili 12 RT mengikuti pelatihan ini termasuk para pengurus Bank Sampah dan kader PKK Sidodadi. Hadir dalam acara itu Plt Lurah Sidodadi Buditri Haryono dan BM Rumah Zakat Samarinda Mega Folandiana.
Buditri mengucapkan banyak terimakasih kepada rumah zakat yang selama ini telah banyak membantu warganya melalui program-program yang dijalankan di Sidodadi termasuk pelatihan kali ini. “Semoga kolaborasi ini terus berjalan dengan baik,” kata Buditri.
Sementara Mega berharap program-program yang dijalankan di Desa Berdaya Sidodadi bisa menjadi bagian dari solusi permasalahan yang ada di lingkungan Sidodadi. “Apalagi saat ini sebagian wilayah Sidodadi terendam banjir,” sebut Mega.
Para peserta yang hadir sangat antusias menyimak pemaparan pemateri terlebih lagi ketika praktik langsung membuat eco enzyme di lokasi.
Ada 12 kilogram sampah organik dari berbagai macam sampah kulit buah sebagai bahan organik pembuatan eco enzyme ini.
Para peserta juga mendapatkan eco enzyme yang sudah jadi dan mendapatkan satu kilo molase siap pakai untuk dibawa pulang agar bisa membuat eco enzyme di rumah masing-masing.
"Terima kasih rumah zakat, pelatihan ini sangat bagus, baru tahu kalau ternyata eco enzyme ini banyak manfaatnya" ungkap Erni, seorang peserta.
Editor: Aspian Nur
Eco enzyme adalah cairan hasil fermentasi campuran antara sampah organik berupa sayuran atau buah-buahan dengan molase atau gula tebu.
Keistimewaan eco enzyme adalah tidak memerlukan lahan yang luas untuk proses fermentasi seperti pada proses pembuatan kompos. Pembuatan eco enzyme sangat hemat dalam hal tempat pengolahan dan dapat diterapkan di rumah.
Yulianti dari Komunitas Eco Enzyme Samarinda sebagai narasumber memaparkan dengan rinci dan jelas tentang pembuatan eco enzyme dan manfaatnya baik bagi lingkungan maupun kesehatan.
Proses fermentasi dalam pembuatan eco enzyme berlangsung selama 3 (tiga) bulan. Setelah itu cairan yang dihasilkan sudah bisa dimanfaatkan.
Ada 20 orang yang mewakili 12 RT mengikuti pelatihan ini termasuk para pengurus Bank Sampah dan kader PKK Sidodadi. Hadir dalam acara itu Plt Lurah Sidodadi Buditri Haryono dan BM Rumah Zakat Samarinda Mega Folandiana.
Buditri mengucapkan banyak terimakasih kepada rumah zakat yang selama ini telah banyak membantu warganya melalui program-program yang dijalankan di Sidodadi termasuk pelatihan kali ini. “Semoga kolaborasi ini terus berjalan dengan baik,” kata Buditri.
Sementara Mega berharap program-program yang dijalankan di Desa Berdaya Sidodadi bisa menjadi bagian dari solusi permasalahan yang ada di lingkungan Sidodadi. “Apalagi saat ini sebagian wilayah Sidodadi terendam banjir,” sebut Mega.
Para peserta yang hadir sangat antusias menyimak pemaparan pemateri terlebih lagi ketika praktik langsung membuat eco enzyme di lokasi.
Ada 12 kilogram sampah organik dari berbagai macam sampah kulit buah sebagai bahan organik pembuatan eco enzyme ini.
Para peserta juga mendapatkan eco enzyme yang sudah jadi dan mendapatkan satu kilo molase siap pakai untuk dibawa pulang agar bisa membuat eco enzyme di rumah masing-masing.
"Terima kasih rumah zakat, pelatihan ini sangat bagus, baru tahu kalau ternyata eco enzyme ini banyak manfaatnya" ungkap Erni, seorang peserta.