Yang pertama adalah Ardian Fandika, Senior Engineer Project Engineering di Pertamina Hulu Mahakam (PHM).
Andika berhasil memberikan dukungan teknis dalam industri pipa melalui pendekatan fitness for service sehingga meningkatkan kualitas produk pipa baja dalam negeri dan penggunaan produk dalam negeri dalam operasi migas.
Inovasi tersebut sudah digunakan pada proyek PHM seperti South Mahakam Gas Supply ke Kilang Balikpapan (SMGS RU-V), Jumelai dan Sisi Nubi (JSN) serta Well Connection untuk pengembangan Lapangan Tunu.
Yang kedua adalah Irawan Josodipuro yang bekerja sebagai piping valve pressure vessel reference specialist di PHM yang juga mampu menciptakan inovasi yakni metode penilaian dan kualifikasi pengujian peralatan migas berupa bejana tekan (static equipment) dan katup yang berhasil meningkatkan kualitas produk dalam negeri yang memenuhi standar internasional kompleksitas tinggi.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyampaikan apresiasi yang tinggi pada kedua pekerja tersebut karena telah bekerja tulus dan berdedikasi tinggi meningkatkan efektivitas kerja dan kemajuan perusahaan.
Lingkungan kerja Pertamina juga mendorong kreativitas dan inovasi, melalui berbagai program inovasi dari para pekerja.
Hal ini sejalan dengan arahan Menteri BUMN Erick Thohir agar BUMN terus menumbuhkan lingkungan kerja yang dapat mendorong lahirnya inovasi dan teknologi.
"Kami bangga, karena inovasi pekerja ini tidak hanya berguna untuk pencapaian kinerja perusahaan, namun juga berdampak positif bagi kemajuan industri migas dan juga mendorong peningkatan komponen dalam negeri yang menjadi target pemerintah," kata Nicke.
Sementara Ardian Fandika menjelaskan dengan hasil analisa kualitas produk yang ia lakukan, dirinya merekomendasikan kepada pabrikan dalam negeri untuk terus melakukan perbaikan.
Keberhasilan ini dinilai Direktorat Jenderal Migas ESDM sebagai terobosan dalam proses pembinaan industri lokal.
"Kami mengarahkan pabrikan dalam negeri untuk memproduksi barang sesuai dengan penggunaan dan secara bertahap kemudian bisa ditingkatkan pada produk yang lebih tinggi persyaratan teknisnya yang dapat memenuhi kebutuhan operasi migas di seluruh Indonesia bahkan global," jelas Ardian dikonfirmasi Korankaltim.com, Kamis (19/8/2021) hari ini.
Pemerintah telah menargetkan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (TKDN) dan Pertamina merespons target ini dengan membuat program assessment dan pembinaan terhadap industri nasional.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur
Yang pertama adalah Ardian Fandika, Senior Engineer Project Engineering di Pertamina Hulu Mahakam (PHM).
Andika berhasil memberikan dukungan teknis dalam industri pipa melalui pendekatan fitness for service sehingga meningkatkan kualitas produk pipa baja dalam negeri dan penggunaan produk dalam negeri dalam operasi migas.
Inovasi tersebut sudah digunakan pada proyek PHM seperti South Mahakam Gas Supply ke Kilang Balikpapan (SMGS RU-V), Jumelai dan Sisi Nubi (JSN) serta Well Connection untuk pengembangan Lapangan Tunu.
Yang kedua adalah Irawan Josodipuro yang bekerja sebagai piping valve pressure vessel reference specialist di PHM yang juga mampu menciptakan inovasi yakni metode penilaian dan kualifikasi pengujian peralatan migas berupa bejana tekan (static equipment) dan katup yang berhasil meningkatkan kualitas produk dalam negeri yang memenuhi standar internasional kompleksitas tinggi.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyampaikan apresiasi yang tinggi pada kedua pekerja tersebut karena telah bekerja tulus dan berdedikasi tinggi meningkatkan efektivitas kerja dan kemajuan perusahaan.
Lingkungan kerja Pertamina juga mendorong kreativitas dan inovasi, melalui berbagai program inovasi dari para pekerja.
Hal ini sejalan dengan arahan Menteri BUMN Erick Thohir agar BUMN terus menumbuhkan lingkungan kerja yang dapat mendorong lahirnya inovasi dan teknologi.
"Kami bangga, karena inovasi pekerja ini tidak hanya berguna untuk pencapaian kinerja perusahaan, namun juga berdampak positif bagi kemajuan industri migas dan juga mendorong peningkatan komponen dalam negeri yang menjadi target pemerintah," kata Nicke.
Sementara Ardian Fandika menjelaskan dengan hasil analisa kualitas produk yang ia lakukan, dirinya merekomendasikan kepada pabrikan dalam negeri untuk terus melakukan perbaikan.
Keberhasilan ini dinilai Direktorat Jenderal Migas ESDM sebagai terobosan dalam proses pembinaan industri lokal.
"Kami mengarahkan pabrikan dalam negeri untuk memproduksi barang sesuai dengan penggunaan dan secara bertahap kemudian bisa ditingkatkan pada produk yang lebih tinggi persyaratan teknisnya yang dapat memenuhi kebutuhan operasi migas di seluruh Indonesia bahkan global," jelas Ardian dikonfirmasi Korankaltim.com, Kamis (19/8/2021) hari ini.
Pemerintah telah menargetkan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (TKDN) dan Pertamina merespons target ini dengan membuat program assessment dan pembinaan terhadap industri nasional.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur