"Yang pasti kami dari pelaku usaha travel pada prinsipnya sangat mendukung kebijakan pemerintah untuk menekan kasus Covid dan kami sangat mematuhi aturan pemerintah tapi di satu sisi kami garda terdepan dalam bidang perjalanan dalam dan luar kota tentunya yang terdampak langsung terhadap kebijakan pembatasn ini," kata Owner Tahta Travel Tenggarong, Amirul Muminin kepada korankaltim.com, Rabu (4/8/2021).
Amirul tak menampik jika penghasilan dirinya dan rekan-rekannya selama diterapkan kebijakan PPKM ini langsung turun drastis. Kalau biasanya dalam setiap pekannya ada saja rata-rata lima kali jalan, namun untuk saat sekarang ini tidak pasti. "Dulu rata-rata seminggu sampai lima kali jalan, sekarang seminggu dapat satu sampai dua kali sudah bersyukur karena yang kami jual adalah jasa untuk bepergian, omzet drop 80 persen karena efek kebijakan ini," ungkapnya.
Meskipun demikian Amirul berharap ada solusi terbaik dari kebijakan yang telah diterapkan pemerintah ini. Solusi diharapkan agar para pelaku usaha jasa travel dan jenis badan usaha yang terkait bisa bertahan pada masa genting seperti sekarang ini.
"Harapannya pemerintah memberikan solusi kepada pelaku usaha jasa perjalanan untuk bisa survive (bertahan) dan pengadaan vaksin untuk para pelaku jasa travel bisa segera dilakukan secara kolektif. Di Tenggarong ada 150 unit yang menggantungkan hidupnya pada jasa travel ini," tutup Amirul.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur
"Yang pasti kami dari pelaku usaha travel pada prinsipnya sangat mendukung kebijakan pemerintah untuk menekan kasus Covid dan kami sangat mematuhi aturan pemerintah tapi di satu sisi kami garda terdepan dalam bidang perjalanan dalam dan luar kota tentunya yang terdampak langsung terhadap kebijakan pembatasn ini," kata Owner Tahta Travel Tenggarong, Amirul Muminin kepada korankaltim.com, Rabu (4/8/2021).
Amirul tak menampik jika penghasilan dirinya dan rekan-rekannya selama diterapkan kebijakan PPKM ini langsung turun drastis. Kalau biasanya dalam setiap pekannya ada saja rata-rata lima kali jalan, namun untuk saat sekarang ini tidak pasti. "Dulu rata-rata seminggu sampai lima kali jalan, sekarang seminggu dapat satu sampai dua kali sudah bersyukur karena yang kami jual adalah jasa untuk bepergian, omzet drop 80 persen karena efek kebijakan ini," ungkapnya.
Meskipun demikian Amirul berharap ada solusi terbaik dari kebijakan yang telah diterapkan pemerintah ini. Solusi diharapkan agar para pelaku usaha jasa travel dan jenis badan usaha yang terkait bisa bertahan pada masa genting seperti sekarang ini.
"Harapannya pemerintah memberikan solusi kepada pelaku usaha jasa perjalanan untuk bisa survive (bertahan) dan pengadaan vaksin untuk para pelaku jasa travel bisa segera dilakukan secara kolektif. Di Tenggarong ada 150 unit yang menggantungkan hidupnya pada jasa travel ini," tutup Amirul.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur