Kehadiran stan tersebut menjadi alternatif bagi pengunjung untuk mengenal beragam bahan bacaan di tengah aktivitas expo. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi memperluas akses literasi, sehingga masyarakat dapat berinteraksi dengan buku tanpa harus terlebih dahulu datang ke perpustakaan daerah.
Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dispusip Kutim, Kamariah, mengatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan minat baca masyarakat melalui pendekatan langsung ke berbagai kelompok.
Menurutnya, layanan perpustakaan tidak cukup hanya menunggu masyarakat datang. Petugas perlu aktif menjangkau lingkungan tempat anak-anak dan masyarakat beraktivitas agar kebiasaan membaca dapat tumbuh sejak dini.
“Selama ini kami lebih banyak melakukan jemput bola. Kami datang ke sekolah, panti asuhan, pondok pesantren hingga permukiman warga," ujarnya.
Pihaknya ingin memastikan anak-anak di Kutim memiliki kesempatan untuk mengenal buku dan menumbuhkan minat baca.
Upaya tersebut menyasar lebih luas dari lingkungan pendidikan formal. Melalui kunjungan langsung, layanan perpustakaan diharapkan dapat menjangkau anak-anak yang memiliki keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, termasuk mereka yang belum mengenyam pendidikan formal.
Momentum Pekan Raya Expo Kutim pun dimanfaatkan untuk memperkenalkan layanan perpustakaan kepada lebih banyak pengunjung. Suasana kegiatan yang ramai menjadi peluang untuk menarik perhatian anak-anak terhadap buku sekaligus membangun kedekatan mereka dengan aktivitas membaca.
“Sehingga masyarakat semakin mengenal layanan perpustakaan. Anak-anak juga bisa mulai tertarik membaca dari hal-hal sederhana,” katanya.
Meski berbagai upaya dilakukan untuk memperluas jangkauan layanan, pembenahan fasilitas perpustakaan daerah masih menjadi perhatian. Menurutnya, keberadaan perpustakaan yang layak, nyaman dan menarik sangat penting untuk mendukung peningkatan budaya baca masyarakat.
Fasilitas yang memadai dapat membuat pengunjung lebih nyaman menghabiskan waktu untuk membaca dan menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang menyenangkan.
“Kami berharap bisa memiliki perpustakaan yang lebih representatif, nyaman, dan menarik bagi masyarakat," tuturnya.
Akses terhadap bahan bacaan semakin terbuka. Upaya ini menjadi bagian dari langkah menumbuhkan budaya literasi sekaligus menyiapkan generasi muda Kutim yang gemar membaca dan memiliki wawasan luas.
"Kami berharap ke depan tersedia ruang baca representatif dan ruang khusus anak-anak," pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin
Kehadiran stan tersebut menjadi alternatif bagi pengunjung untuk mengenal beragam bahan bacaan di tengah aktivitas expo. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi memperluas akses literasi, sehingga masyarakat dapat berinteraksi dengan buku tanpa harus terlebih dahulu datang ke perpustakaan daerah.
Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dispusip Kutim, Kamariah, mengatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan minat baca masyarakat melalui pendekatan langsung ke berbagai kelompok.
Menurutnya, layanan perpustakaan tidak cukup hanya menunggu masyarakat datang. Petugas perlu aktif menjangkau lingkungan tempat anak-anak dan masyarakat beraktivitas agar kebiasaan membaca dapat tumbuh sejak dini.
“Selama ini kami lebih banyak melakukan jemput bola. Kami datang ke sekolah, panti asuhan, pondok pesantren hingga permukiman warga," ujarnya.
Pihaknya ingin memastikan anak-anak di Kutim memiliki kesempatan untuk mengenal buku dan menumbuhkan minat baca.
Upaya tersebut menyasar lebih luas dari lingkungan pendidikan formal. Melalui kunjungan langsung, layanan perpustakaan diharapkan dapat menjangkau anak-anak yang memiliki keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, termasuk mereka yang belum mengenyam pendidikan formal.
Momentum Pekan Raya Expo Kutim pun dimanfaatkan untuk memperkenalkan layanan perpustakaan kepada lebih banyak pengunjung. Suasana kegiatan yang ramai menjadi peluang untuk menarik perhatian anak-anak terhadap buku sekaligus membangun kedekatan mereka dengan aktivitas membaca.
“Sehingga masyarakat semakin mengenal layanan perpustakaan. Anak-anak juga bisa mulai tertarik membaca dari hal-hal sederhana,” katanya.
Meski berbagai upaya dilakukan untuk memperluas jangkauan layanan, pembenahan fasilitas perpustakaan daerah masih menjadi perhatian. Menurutnya, keberadaan perpustakaan yang layak, nyaman dan menarik sangat penting untuk mendukung peningkatan budaya baca masyarakat.
Fasilitas yang memadai dapat membuat pengunjung lebih nyaman menghabiskan waktu untuk membaca dan menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang menyenangkan.
“Kami berharap bisa memiliki perpustakaan yang lebih representatif, nyaman, dan menarik bagi masyarakat," tuturnya.
Akses terhadap bahan bacaan semakin terbuka. Upaya ini menjadi bagian dari langkah menumbuhkan budaya literasi sekaligus menyiapkan generasi muda Kutim yang gemar membaca dan memiliki wawasan luas.
"Kami berharap ke depan tersedia ruang baca representatif dan ruang khusus anak-anak," pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin